Kisah Pilu di Panti Asuhan Annida Qolbu

Menampung Yatim Piatu, Balita, Disabilitas, Hingga Jompo

Panti Asuhan Annida Qolbu
SEMANGAT : Ketua Panti Asuhan Annida Qolbu bersama anak anak asuhnya.

Sepiring nasi berkuah sup lengkap dengan lauk dihadapkan pada Tina. Sajian makanan yang masih hangat itu menggugah selera. Dia makan begitu lahapnya dan dengan penuh hati-hati.

Masa lalu Tina cukup menyedihkan. Dia terlantar tak memiliki keluarga. Sejak balita, Tina terlahir tak bisa melihat dan mengalami cacat pada tangan dan kakinya. Disaat usianya beranjak dua tahun tepatnya pada tahun 2001 lalu, kelima orang pendeta dari Tumbang Samba mengantarkannya ke Yayasan Annida Qolbu. Tak ada yang sanggup merawatnya dan tak semua panti mau menerima manusia yang mengalami disabilitas. Namun, dengan segala keterbatasan, Rohani selaku Ketua sekaligus Pendiri Yayasan Annida Qolbu mau menerimanya dan merawatnya selama 20 tahun hingga sekarang.

Tina jua lah yang menyadarkan pendiri yayasan ketika pemerintah daerah hendak membeli tanah yayasan menjadi tanah hibah pada tahun 2007 lalu.

Diusianya yang masih belia, Tina ketika itu bertanya dengan polosnya kepada pendiri Yayasan, “Kalau tanah dibeli pemda dijadikan tanah hibah, kalau saya mati dikubur disini, nanti kuburan saya diangkat (dibongkar/ dipindahkan) lah?,” ujarnya dimasa itu.

Baca Juga :  Cara Satlantas Polres Kotim Kampanyekan Keselamatan Berlalu Lintas

Pertanyaan itu secara tidak langsung membuat pendiri Yayasan Annida Qolbu berpikir lebih jauh untuk mementingkan nasib anak yatim di masa depan. Hingga pada akhirnya, Yayasan Annida Qolbu yang berlokasi di Jalan Jaya Wjaya IV Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur itu tetap berdiri dan dikelola secara independen atas nama pendiri.

Selain Tina, adapula yang bernasib tak kalah menyedihkan. Dia Aisyah yang ditemukan di hutan dalam kondisi kelaparan. Perempuan yang kini beranjak usia 10 tahun diketahui berasal dari Ramban, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kabupaten Kotim. Tak ada yang tahu siapa keluarganya yang tega membiarkannya terlantar di hutan. Dia dibawa oleh dinas sosial ke Yayasan Annida Qolbu ketika usianya masih 5 tahun.

Pos terkait