Massa Nyaris Bentrok, Pemasangan Hinting Dihalangi PT Salonok

Para tokoh masyarakat adat tak diizinkan masuk oleh pihak PT SLM
RICUH : Para tokoh masyarakat adat tak diizinkan masuk oleh pihak PT SLM untuk memasang portal hinting, Kamis (24/3).

“Dari batas terakhir tanggal 28 Februari sampai 10 Maret 2022 ini, tidak ada tanggapan dari pihak perusahaan, maka kami berikan peringatan terakhir kepada pihak PT SLM untuk mentaati peraturan adat Dayak. Tokoh masyarakat dan damang Se-Kabupaten Seruyan sudah berupaya melakukan jalan damai  dengan datang langsung ke kantor PT SLM, tetapi sepertinya menghindar, maka dengan terpaksa kami melaksanakan ritual adat hinting karena dengan tidak dilaksanakannya hasil putusan adat yang telah disepakati, sama saja perusahaan melecehkan hukum adat,” katanya.

“Kami sudah melakukan berbagai macam cara untuk menyelesaikan persoalan sengketa lahan yang menimpa warga dengan pihak perusahaan, malahan mau berkelahi. Saya melihat pihak perusahaan tidak ada itikad baik, kalau memang ada niat baik, tidak sampai terjadi seperti ini,” sambungnya.

Ketua Forum Koordinasi Damang Se-Kabupaten Seruyan Salundik mengatakan ritual adat dayak hindu kaharingan dan sudah mendapatkan izin dari ketua majelis hindu kaharingan.

“Semua ada suratnya, kita tidak sembarangan melakukan ritual adat dan pemasangan hinting. Kita biarkan saja hinting ini disini dan mungkin kita akan menyurati lagi dan kami tegaskan hinting bisa dilepas bilamana permintaan kami dilaksanakan,” ujarnya.

Baca Juga :  Bupati Kotim: Saya Harap Tidak Ada Kontroversi Lagi Terkait Gerbang Sahati

Pantauan Radar Sampit, ritual adat hinting dilakukan dengan melakukan penusukan seekor babi dan ayam, pemasangan tali hinting atau portal adat serta pemasangan tiga baliho berupa imbauan dan peringatan. Dipasangnya portal adat mengakibatkan sejumlah truk berisi tumpukan buah kelapa sawit tak bisa masuk ke pabrik.

Warga Desa Sembuluh II Kecamatan Danau Sembuluh selaku pemilik lahan Jainudin atau akrab disapa Ijay menyayangkan hal ini terjadi.

“Saya sangat menyayangkan pihak perusahaan tidak melaksanakan hasil putusan sidang adat yang dilaksanakan di Gedung Serba Guna Kecamatan Danau Sembuluh 7 Februari lalu.. Disini saya dan keluarga sangat dirugikan karena ada 18,5 Ha lahan saya dan keluarga dirampas perusahaan dan digarap dijadikan kebun sawit selama 14 tahun lamanya,” kata Ijay.

Pos terkait