Tangani Abrasi dengan Mangrove

ABRASI PANTAI: Kondisi jalan di Desa Keraya, kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat yang mulai tergerus ombak pantai. Selain penanganan cepat dengan pemecah ombak, pemerintah setempat diharapkan bisa menggunakan formasi mangrove untuk mengatasi abrasi pantai yang kian mengkhawatirkan. (ISTIMEWA/RADAR SAMPIT)

Pemkab Kobar Diminta Belajar dari Purworejo dan Bantul

PANGKALAN BUN – Penanganan abrasi pantai di kawasan Desa Keraya, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat diharapkan tidak hanya dengan membangun pemecah ombak. Hal itu diungkapkan Alex Gunawan, salah satu warga setempat yang rumahnya juga nyaris menjadi korban keganasan ombak di pesisir Kumai tersebut.

Bacaan Lainnya

Menurutnya membenamkan beton sebagai pemecah ombak merupakan langkah rapid (cepat) dengan maksud jangka pendek. Namun penanganan selanjutnya diharapkan bisa menggunakan formasi mangrove.

“Terus terang jika hanya mengandalkan pemecah ombak, maka penanganan abrasi akan membutuhkan biaya yang cukup besar. Mengapa tidak mengupayakan untuk menggunakan Mangrove secara masif? Sudah banyak contoh sukses penanganan abrasi dengan itu (mangrove). Untuk rapid response tidak apa-apa menggunakan infrastruktur (pemecah ombak) tapi kan tetap harus ada penanganan secara vegetative,” katanya melalui sambungan telepon, Minggu (11/4).

Alumni Fakultas Kehutanan UGM 1999 jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan ini mencontohkan bahwa ia dan rekan-rekannya pernah terlibat dalam Sustainable Coastal Management Project (SCMP) di Yayasan Relung Yogyakarta dengan menanam formasi hutan mangrove di sepanjang pantai selatan di Kabupaten Purworejo sampai Bantul yang didanai Toyota Ecogrant.

“Jangan fokus pada pemecah ombak, anggota DPRD dan dinas terkait di Pemkab Kobar saya sarankan untuk melihat langsung dan belajar ke Purworejo dan Bantul. Di sana itu pantai selatan dengan ombak seganas itu bisa ditaklukkan dengan mangrove. Kalau masih pikir-pikir ke sana silakan searching di Google, Mangrove Relung Yogyakarta. Ada banyak referensi yang bisa dipelajari,” tegasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *