Jembatan Bantaran Arut Sudah Tak Layak

MEMPRIHATINKAN: Kondisi jembatan di bantaran sungai Arut Kelurahan Raja Seberang, yang ketika rusak hanya dilakukan tambal sulam, belum lama ini.(SULISTYO/RADAR PANGKALAN BUN)

PANGKALAN BUN – Kondisi jembatan kayu di permukiman warga bantaran Sungai Arut, Kelurahan Raja Seberang, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat dinilai sudah tidak memadai dengan perkembangan saat ini.

Dari enam Rukun Tetangga (RT) di Kelurahan Raja Seberang, 99 persen infrastruktur jalannya masih berupa jembatan kayu dengan lebar 2 hingga 4 meter. Saat ini di beberapa titik kondisinya kian memprihatinkan, tak hanya belubang, sejumlah bagian konstruksi mulai patah akibat termakan usia.

Bacaan Lainnya

Kerusakan itu dikhawatirkan akan makin parah mengingat para penghuni kawasan tersebut telah memiliki sepeda motor yang akan menambah beban jembatan saat dilintasi. Belum lagi suara yang ditimbulkan saat kendaraan melintas yang akan menggangu kenyamanan warga.

Sudah tidak terhitung berapa kali pemerintah kelurahan mengajukan usulan dalam Musrenbang agar jembatan kayu ditingkatkan menjadi jembatan permanen dengan cor beton. Namun sejauh ini baru satu ruas jalan yang tidak seberapa panjang yang sudah di cor melalui anggaran APBD pada tahun 2019 silam.

Lurah Raja Seberang Guntur Setyawan membenarkan dengan kondisi warga saat ini yang begitu padat, tentunya jalan yang ada harus ditingkatkan untuk memperlancar akses transportasi. “Kemudian jembatan yang saat ini terbuat dari kayu juga menimbulkan suara-suara yang agak bising jika di lewati motor,” ungkapnya, Senin (10/5).

Ia menyebut bahwa jembatan kayu yang di tepi Sungai Arut panjangnya mencapai lebih dari 6 kilometer. Itu belum termasuk jembatan yang dalam permukiman sehingga kalau ditotal panjangnya mencapai belasan kilometer.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *