Kemarau Ekstrem di Kotim, Parit hingga Embung Mengering dan Pemadaman Karhutla Makin Sulit

bupati kotim halikinnor
Bupati Kotim, Halikinnor mengatakan, keterbatasan air menjadi salah satu kendala utama dalam penanganan karhutla di wilayahnya. (Akbar/Radar Sampit)

SAMPIT, Radarsampit.com – Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) semakin berat seiring kondisi kemarau. Sejumlah sumber air yang biasa dimanfaatkan petugas, mulai dari parit, selokan, saluran irigasi hingga embung, dilaporkan mengering. Bahkan, beberapa sumur bor yang diharapkan menjadi sumber air alternatif juga tidak lagi berfungsi optimal.

Bupati Kotim Halikinnor mengatakan, terbatasnya ketersediaan air menjadi persoalan utama dalam penanganan karhutla saat ini. Kondisi tersebut membuat petugas harus menghadapi tantangan lebih besar ketika berupaya menjinakkan api di lapangan.

Bacaan Lainnya

“Kendala pertama adalah ketersediaan air. Karena kemarau, semuanya kering. Parit, selokan, saluran irigasi, bahkan embung yang disiapkan juga kering. Ada sumur bor yang sudah tidak ada airnya,” ujar Halikinnor, Rabu (21/10).

Selain sumber air yang menipis, karakteristik lahan gambut di Kotim turut mempersulit proses pemadaman. Api tidak hanya membakar tumbuhan di permukaan, tetapi juga dapat menjalar ke lapisan bawah tanah. Akibatnya, kebakaran berpotensi bertahan lebih lama meski api di permukaan sudah berhasil dikendalikan.

Halikinnor menjelaskan, penanganan kebakaran di tanah mineral relatif lebih mudah apabila api hanya melahap vegetasi permukaan. Sebaliknya, lahan gambut membutuhkan penanganan ekstra karena bara api dapat bertahan di dalam tanah.

Ia mencontohkan kebakaran di kawasan ujung Bandara H. Asan Sampit yang membutuhkan waktu lebih dari satu bulan untuk ditangani. Luas area yang terbakar bukan satu-satunya faktor penentu sulitnya pemadaman, sebab kondisi tanah juga berpengaruh besar.

“Kalau di tanah mineral, mungkin satu hektare cukup dipadamkan dengan satu tangki air, kemudian api mati setelah daun-daun di permukaan habis terbakar. Namun, di lahan gambut, area berukuran 10 x 10 meter saja bisa membutuhkan waktu lama untuk dipadamkan. Contohnya di ujung bandara, penanganannya sampai lebih dari satu bulan,” ungkapnya.

Di tengah situasi tersebut, Halikinnor meminta petugas dan seluruh pihak yang terlibat tetap mengutamakan keselamatan. Personel di lapangan diminta tidak memaksakan diri ketika kondisi berisiko, terutama saat api berpotensi mengepung area pemadaman.

Menurutnya, penanganan karhutla harus dilakukan dengan kewaspadaan tinggi dan mempertimbangkan kondisi lapangan agar tidak menimbulkan korban jiwa.

 

 

 

Pos terkait