Inilah Profil Sultan Muhammad Salahuddin, Pahlawan Nasional dari Bima

potret sultan muhammad salahuddin bima xiv semasa hidup
Potret Sultan Muhammad Salahuddin Bima XIV semasa hidup. (Wikipedia.org)

Radarsampit.com – Presiden Prabowo Subianto secara resmi menetapkan Sultan Muhammad Salahuddin Bima XIV (1915–1951) sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia.

Keputusan ini menjadi puncak dari perjuangan panjang yang melibatkan keluarga kesultanan, tokoh agama, sejarawan, akademisi, hingga Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Sultan Muhammad Salahuddin dikenang sebagai pemimpin yang menolak tunduk pada kekuasaan penjajah dan selalu berpihak pada rakyatnya.

Baginya, kehormatan seorang pemimpin bukan diukur dari jabatan atau kekuasaan, tetapi dari kebijaksanaan dan kasih yang diberikan kepada sesama.

Dikutip dari Radar Lombok (Jawa Pos Grup), sosok Sultan Muhammad Salahudin selalu mengajarkan bahwa kekuasaan sejati bukan untuk menaklukkan, melainkan untuk melindungi dan menyejahterakan rakyat.

Lahir di tanah Bima yang dikelilingi bukit dan Laut Flores, Sultan Salahuddin tumbuh menjadi pemimpin alim dan negarawan bijak di masa sulit, yakni saat kolonial Belanda dan pendudukan Jepang bergantian menindas rakyat.

Ia menjadikan iman dan ilmu sebagai landasan utama dalam memimpin, sekaligus menjadikan Kesultanan Bima simbol peradaban Islam yang damai di Timur Nusantara. Arsip kolonial bahkan mencatatnya sebagai pemimpin yang “bersahabat namun berdaulat,” seorang raja yang menempuh diplomasi tanpa kehilangan kedaulatan.

Pada masa pendudukan Jepang, Sultan Salahuddin menolak keras praktik kerja paksa dan berusaha melindungi pemuda Bima dari kekejaman penjajah. Perlawanannya dilakukan dengan cara yang senyap namun bermakna: melalui pendidikan, dakwah, dan kebijakan yang mengangkat martabat rakyat.

Ia mendirikan sekolah rakyat seperti HIS dan madrasah, serta menghidupkan pengajaran Islam di lingkungan istana, menjadikannya wadah untuk membangun kesadaran dan semangat kebangsaan.

Ketika Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, Sultan Salahuddin menjadi salah satu pemimpin pertama di Indonesia Timur yang menyatakan dukungan penuh terhadap Republik Indonesia.

Ia dengan tegas menolak bujukan Belanda untuk bergabung dalam Negara Indonesia Timur (NIT), menegaskan bahwa Bima adalah bagian dari Indonesia yang merdeka dan berdaulat.

Pos terkait