259 Hotspot Muncul di Kotim dalam 24 Jam, Sampit Terancam Kabut Asap

lahan yang kembali terbakar
Lahan yang kembali terbakar hebat mengepung sekitar Jalan Sampit-Kota Besi (Tjilik Riwut) kilometer 7-8, pada Senin (24/8) malam. (istimewa)

SAMPIT, Radarsampit.com – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih perlu diwaspadai. Dalam 24 jam terakhir, sebanyak 259 titik panas atau hotspot terdeteksi di sejumlah wilayah. Kecamatan Mentaya Hilir Selatan menjadi kawasan dengan sebaran hotspot terbanyak.

Kondisi tersebut berpotensi berdampak terhadap kualitas udara di Sampit apabila asap bergerak mengikuti arah angin menuju pusat kota.

Bacaan Lainnya

Kepala Stasiun Meteorologi H. Asan Kotim Mulyono Leo Nardo mengatakan, pergerakan angin saat ini cenderung membawa massa udara dari tenggara menuju barat, barat laut, hingga utara.

“Yang saya khawatirkan jika anginnya dari sana, mungkin akan memasuki wilayah Sampit. Kemungkinan besar visibility atau jarak pandang kita akan pendek,” ujarnya saat rakor penanggulangan darurat bencana karhutla dan kekeringan Kotim 2026 di Aula Rujab Bupati Kotim, Senin (24/8).

Kondisi cuaca juga menjadi perhatian. Berdasarkan pantauan radar cuaca Pangkalan Bun selama 24 jam terakhir, hujan masih turun di sejumlah kawasan utara Kotim. Namun, intensitasnya tergolong rendah, hanya sekitar 0,1 hingga 5 milimeter.

Sementara itu, wilayah selatan Kotim belum mendapatkan curah hujan yang cukup. Minimnya pembentukan awan hujan membuat kondisi lahan semakin kering.

Citra satelit menunjukkan sebagian besar wilayah Kotim berada dalam kondisi cerah. Potensi hujan pada 24 Agustus pun diperkirakan hanya terdapat di kawasan utara dengan intensitas ringan, sekitar 0,5 hingga 20 milimeter.

Kondisi bahan bakar alami juga semakin mengkhawatirkan. Indikator Fine Fuel Moisture Code (FFMC) menunjukkan tingkat kemudahan terbakar yang sangat tinggi pada lapisan permukaan satu hingga dua sentimeter sepanjang 24–30 Agustus.

Risiko serupa ditemukan pada lapisan tanah dua hingga lima sentimeter. Minimnya pasokan hujan dalam beberapa bulan terakhir membuat material kering semakin mudah terbakar dan api berpotensi menjalar lebih cepat.

“Beberapa bulan ini kita belum menerima suplai hujan yang cukup lama. Jadi potensi di lapisan dua sampai lima sentimeter semakin tinggi untuk terbakar. Apalagi kalau sudah merambat, dia akan menyebar lebih cepat,” jelas Mulyono.

Kondisi lebih rawan terdapat pada lapisan tanah yang lebih dalam, sekitar 10 sentimeter ke bawah, khususnya di wilayah selatan Kotim. Tingkat kemudahan terbakar diperkirakan masih tinggi hingga penghujung Agustus.

Mulyono juga mengingatkan keberadaan bibit siklon tropis di wilayah utara yang berpotensi menyerap uap air. Fenomena tersebut dapat memperburuk kondisi kering di Kotim.

Pada 24–25 Agustus, peluang pertumbuhan awan di bagian utara masih berada pada kategori sedang. Namun, periode 25–30 Agustus diprediksi memiliki peluang pertumbuhan awan hujan sangat rendah hingga nihil, terutama di wilayah selatan.

 

 

Pos terkait