Viral Antrean BBM di SPBU Pangkalan Bun Bak Start MotoGP, Netizen Terhibur Sekaligus Prihatin

barisan pengendara motor bersiap masuk areal spbu
Barisan pengendara motor bersiap masuk areal SPBU Bundaran Tudung Saji, Kelurahan Baru, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kobar, belum lama ini.(istimewa/netizen)

PANGKALAN BUN, Radarsampit.com – Aksi para pengendara yang berebut masuk ke area Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Jalan Tudung Saji, Kelurahan Baru, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat, menjadi sorotan warganet. Video tersebut ramai beredar di media sosial karena memperlihatkan suasana antrean BBM yang tidak biasa.

Dalam video berdurasi singkat itu, puluhan pengendara sepeda motor tampak langsung memacu kendaraannya sesaat setelah petugas membuka rantai portal di pintu masuk SPBU. Masing-masing berusaha menjadi yang pertama mencapai dispenser pengisian BBM.

Bacaan Lainnya

Suasana semakin menarik perhatian karena video tersebut diberi sentuhan narasi dan voice over ala komentator balap MotoGP. Aksi saling salip antar pengendara pun terlihat seperti sesi start sebuah ajang balap motor, sehingga mengundang gelak tawa banyak pengguna media sosial.

Meski demikian, di balik unsur hiburan tersebut tersimpan kenyataan yang dinilai cukup memprihatinkan. Kelangkaan BBM bersubsidi jenis Pertalite yang masih terjadi di wilayah Pangkalan Bun membuat masyarakat rela mengantre sejak pagi demi mendapatkan bahan bakar.

Ridwan, salah seorang warga Pangkalan Bun, mengaku sempat tertawa saat menyaksikan video itu. Namun, menurutnya, tayangan tersebut sekaligus menjadi gambaran bahwa persoalan distribusi BBM hingga kini belum sepenuhnya terselesaikan.

“Kalau melihat videonya memang lucu karena dibuat seperti balapan MotoGP. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya kondisi ini cukup memprihatinkan. Artinya masalah BBM masih belum selesai,” ujarnya, Minggu (2/8).

Ia juga menyoroti banyaknya pengendara yang sudah saling mendahului bahkan sebelum portal dibuka sepenuhnya. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan tingginya kekhawatiran masyarakat kehabisan stok BBM.

Ridwan menduga tidak seluruh kendaraan yang mengantre membeli BBM untuk kebutuhan pribadi. Ia menilai masih ada oknum yang membeli dalam jumlah besar untuk kemudian dijual kembali secara eceran.

“Di sisi lain, kita masih sering melihat BBM dijual menggunakan jeriken atau galon di kios-kios pinggir jalan. Sementara masyarakat biasa justru harus antre panjang untuk mendapatkan Pertalite,” katanya.

Senada dengan itu, warga lainnya, Nanang, menilai pemerintah daerah bersama Satgas BBM sebenarnya telah melakukan berbagai langkah pengawasan. Namun, upaya tersebut dinilai belum memberikan hasil yang maksimal.

Menurutnya, salah satu solusi yang perlu diperkuat adalah pengawasan terhadap praktik pengetapan BBM agar distribusi bahan bakar bersubsidi benar-benar tepat sasaran.

“Situasinya memang tidak mudah. Video yang viral itu memang menghibur, tetapi di sisi lain menjadi kritik agar penyaluran BBM bisa lebih tertib dan dinikmati masyarakat yang benar-benar membutuhkan,” tuturnya.

 

 

Pos terkait