JAKARTA, radarsampit.com – Dugaan tindak kekerasan oleh senior terhadap junior kembali mencuat di tubuh TNI Angkatan Darat. Kali ini, seorang prajurit dari Batalyon Infanteri (Yonif) 113/Jaya Sakti, Pratu Farkhan Sauqi Marpaung, dilaporkan meninggal dunia saat bertugas di daerah operasi perbatasan Indonesia–Papua Nugini.
Atas peristiwa tersebut, TNI AD memastikan memberikan perhatian serius dan telah mengambil langkah cepat untuk mengusut kasus yang diduga melibatkan kekerasan internal di satuan tugas tersebut.
Kepala Dinas Penerangan TNI AD (Kadispenad) Brigjen TNI Donny Pramono menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya Pratu Farkhan, yang disebut sebagai prajurit muda yang tengah menjalankan amanah negara di wilayah Papua.
“Peristiwa ini menjadi perhatian serius bagi pimpinan TNI AD,” ujar Donny saat dikonfirmasi awak media, Sabtu (3/1).
Donny menjelaskan, sejak menerima informasi adanya dugaan tindak kekerasan yang berujung pada tewasnya seorang prajurit di medan tugas, jajaran TNI AD langsung bergerak cepat. Terduga pelaku yang diduga merupakan senior korban telah diamankan, dan proses investigasi menyeluruh segera dilakukan.
“Saat ini kasus masih dalam tahap penyelidikan untuk memastikan fakta secara objektif dan transparan,” katanya.
Ia menegaskan, TNI AD tidak mentoleransi segala bentuk kekerasan di luar aturan dan ketentuan yang berlaku, terlebih jika tindakan tersebut mengakibatkan hilangnya nyawa seorang prajurit.
“Apabila hasil penyelidikan menunjukkan adanya pelanggaran hukum maupun disiplin militer, maka akan diberikan sanksi tegas sesuai ketentuan yang berlaku,” tegas perwira tinggi bintang satu tersebut.
Selain fokus pada pengungkapan kasus, TNI AD juga memberikan perhatian khusus kepada keluarga almarhum Pratu Farkhan Sauqi Marpaung. Donny memastikan, institusi Angkatan Darat berkomitmen mengusut tuntas peristiwa ini secara profesional dan terbuka.
“Pimpinan TNI AD berkomitmen mengungkap kasus ini secara adil dan bertanggung jawab, demi keadilan bagi almarhum, keluarganya, serta menjaga kehormatan institusi TNI Angkatan Darat,” pungkasnya.
Kasus ini kembali menyoroti isu kekerasan internal di lingkungan militer yang kerap menjadi sorotan publik, terutama ketika terjadi di wilayah operasi yang seharusnya menuntut soliditas dan profesionalisme tinggi antar prajurit. (jpg)








