Jejak Kolaborasi BGA & KTH Meniti Fajar: Menguatkan Perhutanan Sosial di Kalimantan Tengah

Perhutanan Sosial Kalimantan Tengah,BGA Group,Hutan Kemasyarakatan (HKm) Raja Seberang,Rehabilitasi hutan dan lahan
Simbolis penanaman pohon antara Andi Amin (Sustainability Governance Department Head BGA) dan Srwani (Ketua KTH Meniti Fajar) pada tahun 2024

Radarsampit.com – Kalimantan Tengah telah lama menjadi rumah bagi hutan tropis yang luas, namun wilayah ini juga kerap menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan setiap musim kemarau. Dari peristiwa itu tumbuh kesadaran baru bahwa hutan yang dikelola secara bijak justru lebih tangguh terhadap kerusakan.

Kesadaran tersebut melahirkan berbagai inisiatif Perhutanan Sosial, di mana masyarakat diberi hak legal untuk mengelola dan menjaga hutan secara berkelanjutan. Salah satu contoh keberhasilannya adalah Kelompok Tani Hutan (KTH) Meniti Fajar, yang berlokasi di Kelurahan Raja Seberang, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat.

Bacaan Lainnya
Perhutanan Sosial Kalimantan Tengah,BGA Group,Hutan Kemasyarakatan (HKm) Raja Seberang,Rehabilitasi hutan dan lahan
Gerbang masuk kawasan Kelompok Tani Hutan (KTH) Meniti Fajar di Kelurahan Raja Seberang, Kotawaringin Barat. Di bawah skema Perhutanan Sosial, kelompok ini menjadi contoh nyata kolaborasi masyarakat dan sektor swasta dalam mengelola hutan secara lestari.

Berawal pada tahun 2011 sebagai kelompok tani yang berfokus pada pertanian dan peternakan, Meniti Fajar terus berkembang dan memperkuat struktur organisasinya. Pada tahun 2021, mereka resmi berdiri sebagai KTH Meniti Fajar dan memperoleh izin pengelolaan Hutan Kemasyarakatan (HKm) seluas 1.909 hektare di kawasan Hutan Produksi yang Dapat Dikonversi (HPK) di Raja Seberang.

Sejak saat itu, arah perjalanan mereka berubah. Meniti Fajar bukan lagi sekadar kelompok tani, tetapi komunitas yang menata masa depan hutan dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Simbolis penanaman pohon antara Andi Amin (\Sustainability Governance Department Head BGA) dan Srwani (Ketua KTH Meniti Fajar) pada tahun 2024

Dukungan penting datang dari Bumitama Gunajaya Agro (BGA Group), yang pada akhir 2024 menandatangani kerja sama dengan KTH Meniti Fajar. Kolaborasi ini menjadi langkah awal untuk menjaga tutupan hutan, menekan deforestasi, serta membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Baca Juga :  Semangat Hari Kartini dalam Perjuangan Perempuan di Industri Sawit

Sejalan dengan semangat “Bumitama Berdaya” (Beri Daya dan Upaya), BGA berkomitmen memperkuat kapasitas masyarakat melalui pelatihan, pendampingan teknis, dan pengembangan agroforestry berkelanjutan.

Hasil studi dasar (baseline study) menunjukkan potensi kawasan HKm sebagai wisata alam terpadu dan demplot kakao edukatif. Menindaklanjuti temuan itu, BGA mendukung penyediaan bibit kakao unggul, kecambah berkualitas, serta abu boiler pabrik sawit untuk memperkaya tanah. Kerja sama jangka panjang selama 25 tahun pun disiapkan untuk memastikan keberlanjutan program ini.

Kini hasilnya mulai terlihat. KTH Meniti Fajar telah menanam sekitar 3.000 batang kakao, dengan target mencapai 5.000 batang pada akhir tahun. Bibit-bibit muda itu menjadi simbol harapan baru, bahwa kolaborasi antara masyarakat dan sektor swasta dapat menghadirkan manfaat nyata bagi lingkungan dan ekonomi lokal.

Perhutanan Sosial Kalimantan Tengah,BGA Group,Hutan Kemasyarakatan (HKm) Raja Seberang,Rehabilitasi hutan dan lahan
Deretan bibit kakao hasil penanaman tahap awal KTH Meniti Fajar mulai tumbuh subur. Hingga kini, lebih dari 3.000 batang telah ditanam sebagai bagian dari upaya menjaga tutupan hutan dan meningkatkan ekonomi masyarakat melalui sistem agroforestry.

Inisiatif ini diharapkan menjadi model pengelolaan hutan berbasis masyarakat yang seimbang antara ekonomi dan kelestarian lingkungan. Melalui pendampingan dan komitmen bersama, Meniti Fajar terus menapaki jalan menuju masa depan yang lebih mandiri, produktif, dan lestari, menanam pohon, sekaligus menanam harapan bagi generasi berikutnya.

Pos terkait