Radarsampit.com – PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) berencana mengakuisisi mayoritas saham PT Sawit Mandiri Lestari (SML). Emiten perkebunan kelapa sawit dan pengolahan CPO ini berencana menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Kamis (30/10/2025).
Agenda utamanya adalah meminta restu pemegang saham atas rencana akuisisi mayoritas saham PT Sawit Mandiri Lestari (SML) senilai Rp1,6 triliun.
Mengacu pada keterbukaan informasi BEI, manajemen SSMS menjelaskan, akuisisi ini diharapkan dapat memperkuat rantai pasok, memastikan pertumbuhan berkelanjutan, serta meningkatkan daya saing di industri sawit nasional.
Lewat aksi ini, SSMS akan menggenggam kepemilikan 63,40% saham SML, setara 98.328 lembar saham.
Perseroan menilai, kebun milik SML berada di wilayah yang sama dengan area operasional SSMS serta memiliki umur tanaman yang masih muda, sehingga berpotensi memberikan tambahan produksi yang signifikan.
Diketahui, SML merupakan perusahaan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di Kalimantan Tengah dengan areal konsesi seluas 11.046 hektare.
“Dengan area 11.046 hektare, SML memiliki potensi besar dalam memperkuat suplai bahan baku, menekan rata-rata umur tanaman, sekaligus menambah volume produksi TBS dan CPO,” terang manajemen SSMS, Rabu (24/9/2025).
Aksi korporasi ini juga menandai pergeseran kepemilikan. PT Citra Borneo Indah (CBI), pengendali SSMS yang sebelumnya memiliki 99,9% saham SML, nantinya hanya akan memegang 36,5%. Karena melibatkan entitas afiliasi, transaksi ini juga dikategorikan sebagai transaksi afiliasi.
SSMS menegaskan, akuisisi ini tidak akan mengganggu keberlangsungan usaha maupun kinerja keuangan. Justru sebaliknya, posisi keuangan SSMS terbilang sehat.
Pada semester I/2025, perusahaan mencatatkan pendapatan Rp7,19 triliun atau tumbuh 39,8% dibandingkan periode sama tahun lalu. Laba bersih pun melonjak 80,82% menjadi Rp691,44 miliar.
Dari sisi neraca, total aset SSMS per 30 Juni 2025 mencapai Rp18,34 triliun, naik 2,5% dibandingkan posisi akhir 2024. Ekuitas pun meningkat 3,6% menjadi Rp9,13 triliun, menunjukkan struktur keuangan yang solid untuk menopang aksi akuisisi ini. (sla)








