Meski demikian, Leopard Racing tetap mencoba mengajukan banding terhadap keputusan tersebut.
Upaya itu tidak membuahkan hasil karena Panel Steward menolak permohonan yang diajukan tim.
FIM menilai bukti yang ada sudah cukup kuat untuk menunjukkan bahwa integritas sistem penyegelan mesin telah dilanggar.
Alasan FIM Menjatuhkan Hukuman Berat
Dalam penjelasannya, Direktur Teknis FIM menegaskan bahwa persoalan utama bukan semata-mata soal performa mesin.
Masalah terbesar adalah hilangnya kemampuan pihak teknis untuk memastikan bahwa mesin masih berada dalam kondisi yang sama seperti saat pertama kali disegel dan disetujui untuk digunakan.
Menurut regulasi Moto3, apabila segel keamanan rusak, hilang, atau terbukti dimanipulasi, mesin tersebut otomatis dianggap sebagai mesin baru atau mesin yang telah direkonstruksi.
Konsekuensinya, penggunaan mesin tersebut masuk kategori pelanggaran terhadap batas alokasi mesin yang diberikan kepada setiap pembalap selama satu musim.
FIM juga menilai tindakan tersebut berpotensi merugikan integritas kompetisi karena membuka kemungkinan adanya perubahan spesifikasi yang tidak dapat diverifikasi.
Selain pelanggaran teknis, kasus ini juga dianggap melanggar aturan yang berkaitan dengan tindakan yang merugikan kepentingan olahraga balap motor.
Mesin Kedua Bahkan Dianggap Tidak Aman
Temuan pada mesin #811 disebut lebih mengkhawatirkan.
Berdasarkan laporan pabrikan mesin, unit tersebut menunjukkan tanda-tanda pembongkaran dan pemasangan ulang yang cukup jelas.
Setelah dilakukan inspeksi menyeluruh, sejumlah komponen internal dinilai sudah tidak layak digunakan untuk kompetisi.
Karena alasan keselamatan, mesin itu akhirnya dicabut dari daftar alokasi pembalap dan tidak diperbolehkan lagi digunakan pada balapan berikutnya.
FIM menegaskan bahwa tim tidak mampu memberikan penjelasan memadai mengenai kondisi segel maupun alasan mengapa mesin tersebut menunjukkan indikasi pernah dibuka.
Dampak Besar bagi Perebutan Gelar Moto3
Kasus ini menjadi salah satu kontroversi terbesar di Moto3 musim 2026.
Sebelum dijatuhi hukuman, Adrian Fernandez tampil cukup konsisten dan mampu bersaing di papan atas klasemen.
Kini situasinya berubah total. Kehilangan 77 poin membuat jaraknya dengan para rival semakin jauh.
Di sisi lain, keputusan ini menjadi pengingat keras bahwa regulasi teknis di MotoGP dan seluruh kelas pendukung diterapkan secara ketat.
Setiap pelanggaran yang berkaitan dengan mesin, terutama yang menyangkut sistem penyegelan resmi, akan mendapatkan perhatian serius dari FIM.
Moto3 selama ini dikenal sebagai kelas pembinaan yang menekankan persaingan ketat dengan spesifikasi teknis yang sangat diawasi. Karena itu, kasus seperti yang menimpa Leopard Racing menjadi sorotan besar di paddock MotoGP.
Dengan musim yang masih panjang, Fernandez masih memiliki kesempatan untuk bangkit. Namun setelah kehilangan sebagian besar poin yang telah diperolehnya, perjuangannya untuk kembali ke persaingan gelar dipastikan akan jauh lebih berat dibanding sebelumnya.
Bagi Leopard Racing, insiden ini juga menjadi pukulan telak yang dapat memengaruhi reputasi tim yang selama ini dikenal sebagai salah satu kekuatan besar di kelas Moto3. Apalagi keputusan tersebut datang saat kejuaraan memasuki fase penting menjelang paruh musim.







