SAMPIT, radarsampit.com – Bundaran Tidar yang menjadi salah satu biang kemacetan arus lalu lintas di perempatan Jalan Tidar-Jaya Wijaya-Tjilik Riwut akhirnya dibongkar total. Bundaran tersebut merupakan salah satu warisan proyek mercusuar penataan Kota Sampit yang dibangun pada 2013-2015 silam.
Pembongkaran dilakukan tenaga teknis lapangan yang bertugas Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan Rakyat, dan Kawasan Permukiman (PU PRPRKP) Kotim, Selasa (23/5) hingga Sabtu (27/5). Pemkab Kotim awalnya hanya akan memperkecil diameter bundaran itu. Namun, akhirnya diputuskan dihapus total.
Plt Kepala Dinas PUPRPRKP Kotim Kaspulzen Heriyanto melalui Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPRPRKP Kotim Mentana Dhinar Tistama mengatakan, pekerjaan pembongkaran Bundaran Tidar dilakukan sebagai upaya mengatasi kemacetan lalu lintas pada persimpangan yang selalu padat pengendara.
Kendati pada titik tersebut telah terpasang alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL) atau lampu lalu lintas, pengendara tetap berebut memakai badan jalan karena sempitnya ruas dan lebarnya Bundaran Tidar. Pembongkaran akan memperluas ruang bagi pengendara, sehingga arus lalu lintas diharapkan tak lagi macet.
”Sesuai hasil rapat bersama Dinas Perhubungan Kotim pada 26 April 2023 lalu, untuk Bundaran Tidar dibongkar total secara menyeluruh, karena keberadaan bundaran menimbulkan antrean cukup panjang di setiap kaki simpang dan kendaraan harus berputar mengelilingi bundaran, sehingga terjadi pelambatan arus lalu lintas pada mulut simpang,” kata Mentana Dhinar Tistama, Jumat (26/5).
Mentana menuturkan, pembongkaran dikerjakan hati-hati, mengingat posisi bundaran berada pada arus lalu lintas padat pengendara. ”Pekerjaan pembongkaran masih terus berlanjut. Dimulai dengan membongkar bagian dalamnya, semua puing beton dan tanah dikumpulkan dalam karung,” katanya.
Setelah semua puing beton dan tanah di dalam Bundaran Tidar bersih terangkut dan tiang lampu dipindahkan, selanjutnya Bundaran Tidar pada sisi lingkaran terluar akan dibongkar menggunakan bantuan ekskavator.
”Pekerjaan ini perlu kehati-hatian dan dikerjakan bertahap. Begitu bundaran dibongkar, jangan sampai membahayakan pengendara. Jadi, kami usahakan bekas bundaran langsung segera ditutup atau diratakan menggunakan material Cement Treated Recycling Base (CTRB) material campuran batu, tanah dan semen,” katanya.
Catatan Radar Sampit, Bundaran Tidar merupakan salah satu proyek mercusuar yang digarap pada 2013 silam. Proyek itu merupakan upaya Pemkab Kotim yang saat itu dipimpin Supian Hadi-Taufik Mukri untuk menata Kota Sampit. Ada tiga bundaran lain yang dibangun selain di persimpangan Tidar saat itu, yakni simpang tiga Jalan Samekto dan Bundaran Nanas di Kecamatan Kotabesi.
Total anggaran proyek mercusuar yang digelontorkan saat itu mencapai sekitar Rp232 miliar, menggunakan sistem pendanaan tahun jamak pada 2013, 2014, dan 2015. Selain bundaran, proyek penataan kota itu meliputi pembangunan jalan dan Ikon Patung Jelawat.
Rahman, salah seorang warga di Jalan Tidar mengatakan, bundaran yang dibongkar tersebut seolah memperlihatkan kegagalan pemerintah merancang pembangunan kota. Harusnya, sebelum bundaran itu dibangun dikaji lebih dalam mengenai dampaknya hingga beberapa tahun ke depan dengan memperhatikan tingkat kepadatan lalu lintas.
”Membangun bundaran itu jelas menggunakan anggaran yang tidak sedikit, termasuk pemeliharaannya. Kalau akhirnya dibongkar total, sama artinya pemerintah gagal merancang pembangunan kota, karena sebelumnya tak dikaji lebih dulu dampaknya. Proyek bundaran itu jadi mubazir dan uang rakyat akhirnya terbuang sia-sia,” ujarnya.








