Perajin tahu dan tempe di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) resah akibat harga kedelai yang terus naik. Ada yang memilih tak memproduksi tempe, ada yang mengurangi takaran porsi jualan, dan ada yang memilih menaikan harga tempe.
Dudung, perajin tempe merk Harapan Bersama atau biasa dikenal tempe HB berlabel biru merasakan dampak penurunan pendapatan sejak harga kedelai naik. Mau tidak mau, dia menyiasati dengan mengurangi takaran dan sedikit menaikkan harga tempe.
“Harga kedelai naik terus enggak tahu ini kapan turunnya. Dari tahun lalu harga kedelai impor Amerika merk Bola dijual Rp 450 ribu per sak sampai Rp 470 ribu per sak. Januari 2022 ini harganya melambung jadi Rp 625 ribu per sak, Februari naik lagi jadi Rp 630 ribu per sak sampai sekarang,” kata Dudung saat dijumpai Radar Sampit di pabrik tempe HB, Jalan Bumi Raya II Ujung, Gang Tempe, Rabu (23/3).
Kenaikan harga kedelai yang menjadi bahan baku utama pembuatan tempe mau tidak mau disiasati dengan mengurangi takaran dan menyamarakan harga atau lebih tepatnya harga naik tipis.
“Sementara ini mengurangi takaran ukuran dan menaikan harga partai dari Rp 2.500 per bungkus naik Rp 250 jadi Rp 2.750 per bungkus. Ini khusus harga eceran ke pedagang, kalau ke konsumen atau pembeli ya harga rata-rata tetap Rp 3 ribu, ada juga pedagang lain yang jual Rp 4 ribu per bungkus,” katanya.
Dalam sehari, Dudung dapat memproduksi sekitar 5.000-5.500 bungkus tempe kemasan kecil denga harga partai Rp 2.750 di tingkat pedagang. Untuk ukuran besar harga partai ke pedagang dijual Rp 5.500 per papan dengan produksi rata-rata 1600-1700 papan tempe per hari. Selain itu, adapula tempe kemasan merk A-Zaki dengan berat 4 ons dijual dengan harga partai Rp 4500 ke pedagang sedangkan ke konsumen dijual Rp 5.000 dengan jumlah produksi 600 bungkus per hari.
“Pesan setiap lima hari sekali 100 sak. Biasanya per hari menghabiskan 21 karung, sekarang produksi berkurang jadi 19 karung (kedelai kemasan 50 kg). Pedagang yang biasanya ngambil banyak, sekarang dikurangi karena harganya diratakan ya naik tipis saja sebenarnya, tetapi tetap terasa pengaruhnya ke jumlah produksi dan penghasilan,” kata pria perantauan asal Bandung ini.
Menurutnya, semenjak kenaikan harga kedelai, kualitas kedelai yang dihasilkan tidak sebagus yang sebelum terjadi kenaikan. “Saya menduga kedelainya dioplos. Kalau kedelai impor Amerika itu kacang kedelainya bersih dan bulat, kalau kedelai Indonesia lonjong. Kualitas kedelai yang saya beli sejak Februari lalu juga kurang bagus, akhirnya tempe jadi gampang rusak dan imbasnya kami yang gantikan tempenya ke pedagang,” sahut Rasiyem istri Dudung.
Sementara itu, pedagang tempe tahu di Pasar Subuh Jalan Letjen MT Haryono mengatakan, harga jual tempe tak semua mengalami kenaikan. “Ada kenaikan Rp 500-1000 per bungkus selama dua hari sejak mogok produksi 19-20 Maret lalu. Sekarang harga jual tempe HB yang biasanya Rp 3 ribu saya jual Rp 4 ribu per bungkus kemasan kecil. Beli 3 jadi Rp 11 ribu, beli 10 bungkus dikorting jadi Rp 3.500 per bungkusnya. Kalau Tempe HB kemasan papan dan kemasan daun sekarang jual Rp 7 ribu ambil untung seribu rupiah saja. Untuk merk Dua Putri naik dua hari saja jadi Rp 6 ribu sekarang kembali stabil dijual Rp 5 ribu per papan,” kata Maemunah.
Ketua Komunitas Perajin Tahu Tempe Kotim Hadi Wiyono menuturkan, kenaikan harga tempe memicu keresahan semua perajin tahu tempe di Sampit yang jumlah sekitar 40 perajin. Kerisauan pengrajin tahu tempe pada akhirnya dibahas dalam rapat pada Rabu (16/3) yang dihadiri pengurus dan perwakilan dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kotim.








