SAMPIT, RadarSampit.com – Jeritan seorang perempuan memecah keheningan dini hari di Jalan Nyai Rendem, Kelurahan Mentawa Baru Hulu, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Selasa (9/8), sekitar pukul 02.00 WIB. Sebagian warga setempat yang terlelap, langsung tersentak, namun tak berani langsung mendatangi sumber suara.
Pagi harinya, sekitar pukul 06.00 WIB pagi, warga mulai resah. Perempuan yang sebelumnya berteriak itu, Lisnawati (33), dikabarkan kondisinya memprihatinkan. Wakil Ketua RT 23/RW 8 Niswatun lalu memutuskan menghubungi Palang Merah Indonesia (PMI) untuk bersiaga apabila suatu yang tidak terduga terjadi.
Pasalnya, ada kabar yang menyebutkan korban dinyatakan meninggal dan dibawa ke RSUD dr Murjani Sampit. ”Dari malam tadi saya sudah tidak bisa beristirahat dengan tenang. Ada terdengar suara perempuan berteriak. Rumah saya persis di sebelah rumahnya. Saya mendengar suara teriakan itu dengan jelas,” ujar Niswatun.
Niswatun tak lekas mengetuk pintu atau mencari tahu penyebab teriakan histeris itu. Dia dan keluarganya memutuskan tetap di rumah dan terjaga sepanjang malam.
”Saya sebenarnya ragu mau membantu, karena tetangga di sebelah biasa bertengkar (Lisnawati dan suaminya, Red). Kami pernah bantu melerai, malahan kami yang tidak ditegur. Dari situ saya tak ingin ikut campur urusan tetangga, tetapi saya tetap siaga di rumah, khawatir kalau terjadi apa-apa,” katanya.
”Paginya saya menelepon PMI agar segera datang dan ada warga lain yang lebih tanggap langsung menelepon pihak kepolisian,” tambahnya.
Niswatun menyaksikan sendiri darah yang keluar dari balik kulit bagian perut Lisnawai yang kerap disapa Lilis itu. ”Darahnya lumayan banyak. Lukanya selebar seperti orang operasi caesar,” ucapnya.
Sebelum pukul 08.00 WIB, anggota Polres Kotim melakukan penyelidikan atas kejadian yang cukup meresahkan warga sekitar. Percobaan bunuh diri itu tak sampai membuat nyawanya melayang, namun korban harus dilarikan ke rumah sakit untuk dilakukan penanganan kesehatan.
Meski demikian, korban sempat menolak dibawa ke rumah sakit. Sekitar pukul 10.00 WIB, didampingi saudara dan suami korban dibawa ke IGD untuk menjahit luka di perut selebar 17 cm. Korban kemudian memaksa pulang ke rumah menggunakan sepeda motor.
Intan (22) adik korban menjelaskan kronologis kejadian yang menimpa kakak sulungnya. Intan tak tinggal serumah dengan korban. Dia menyewa kos yang tak jauh dari kediaman kakaknya.
Pagi-pagi dirinya mendapat kabar kakaknya sedang tidak baik-baik saja. Kabar dugaan percobaan bunuh diri membuatnya kaget. Mengetahui informasi tersebut, Intan bergegas berkendara menuju kediaman korban sekitar pukul 06.00 WIB.
”Sampai di rumah kakak, saya dan abang tak boleh masuk. Diusir, karena dia ingin tenang sendiri. Suaminya juga diusir, disuruh keluar,” ujar Intan.
Merasa tak tahu harus ke mana, Intan memutuskan mencari sarapan dan sempat kembali ke kosnya. ”Saya baru pulang kerja (menyanyi), dapat kabar kakak mau bunuh diri. Saya ke rumahnya, kakak saya masih baik-baik saja. Saya tinggal keluar mencari sarapan, tak lama ada pesan masuk dari kakak saya menunjukkan luka di perutnya yang penuh darah,” ujarnya.
Saat percobaan bunuh diri tersebut, tak ada satu pun keluarga yang mendampingi, karena saudara laki-laki dan suaminya dilarang masuk. ”Dapat kiriman dari kakak saya, langsung loncat badan saya menuju ke rumah kakak. Pikir saya, kalau dia tak mau membuka pintu, mau kami dobrak,” ujarnya.
Dari luka tersebut, korban menyayat bagian kulit sampai terlihat lemak bagian perut yang keluar. ”Kakak itu menyayat dirinya sendiri pakai cutter silet,” ujarnya.








