SAMPIT – Setelah melaksanakan program ‘Cegah Stunting itu Penting’ di Puskesmas Mentaya Seberang pada Senin 24 Februari 2025, BRI Cabang Sampit kembali mengadakan kegiatan serupa di Puskesmas Baamang II pada Rabu 26 Februari 2025.
Kedatangan rombongan BRI Cabang Sampit disambut Kepala Puskesmas Baamang II dr Desliana Eka Maulitita. Mereka membawa bantuan berupa paket Antropometri Kit-SK TKDN yang terdiri dari metrisis digital baby weight scale 02 bluetooth, metrisis digital weight scale 02 bluetooth, metrisis analog stadiometer 02, metrisis analog infantometer board 02, metrisis analog body measuring tape, metrisis tas antropometri.
Selain Antropometri Kit, BRI Cabang Sampit juga menyerahkan makanan tambahan untuk pencegahan stunting selama tiga bulan berupa SGM Eksplor Gain Optigrow, SGM eksplor 1+ 400 gram, SGM Bunda 150 gram, beras, kacang hijau, telur ayam.
Usai serah terima bantuan di Puskesmas Baamang II, sebagian besar bantuan langsung dibawa ke Desa Tinduk. Kedatangan rombongan BRI Cabang Sampit bersama para pegawai Puskesmas Baamang II kantor Desa Tinduk disambut antusias ibu-ibu beserta anak-anak balita yang saat itu sedang ada kegiatan posyandu.
”Pemberian bantuan Antropometri Kit di Puskesmas merupakan upaya nyata BRI dalam mendorong pelayanan kesehatan dasar yang baik sehingga dapat mendorong peningkatan kualitas hidup masyarakat,” ujar Pemimpin BRI Cabang Sampit Makhfudhi Badrul Kamal.
Makhfudhi mengungkapkan bahwa program ini dilakukan dalam rangka memperingati Hari Gizi Nasional 2025. BRI Peduli ‘Cegah Stunting Itu Penting’ merupakan bentuk dukungan BRI terhadap program pemerintah dalam mencegah dan menurunkan angka prevalensi stunting serta mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainabilty and Development Goal’s (SDG’s).
Kepala Puskesmas Baamang II dr Desliana Eka Maulitita menyampaikan bahwa bantuan dari BRI akan didistribusikan ke sejumlah posyandu. Bantuan didistribusikan tidak hanya kepada balita stunting, tapi juga balita kurus, berat badan kurang, dan balita dengan gizi kurang.
”Data terbaru yang kami curigai stunting ada 115 kasus, sebagian sudah dirujuk ke dokter spesialis dan diberi penanganan khusus,” ujarnya.
Desliana menyampaikan bahwa masalah gizi pada balita, termasuk stunting, masih menjadi tantangan besar dalam sektor kesehatan masyarakat. Stunting tidak hanya berdampak pada terhambatnya pertumbuhan fisik, tetapi juga memengaruhi perkembangan kognitif, motorik, dan meningkatkan risiko gangguan metabolik di masa dewasa.
”Ada banyak faktor penyebab terjadinya stunting, diantaranya faktor ekonomi dan pola hidup yang salah. Jadi tidak melulu karena faktor kemiskinan. Ada juga warga dari sisi ekonomi bagus, tapi anaknya mengalami stunting. Ini disebabkan pola hidup yang salah, faktor ketidaktahuan,” jelasnya.
Desliana juga berterima kasih kepada BRI yang telah berkontribusi dalam program pencegahan stunting. Bantuan ini sangat bermanfaat bagi anak-anak yang sedang bermasalah dengan gizi. (yit)








