BRILink, Merajut Inklusi Keuangan hingga Pelosok Desa

bri link
MAJU PESAT: Fahrul Raji (tengah) di gerai BRILink Arza Jaya, Jalan Muchran Ali, Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Minggu (9/3/2025)

Fahrul Raji menyediakan sarana kegiatan sosial, mulai dari dua unit ambulans, peralatan damkar, dan tempat mengaji gratis bagi anak-anak. Semua itu dibiayai dari keuntungan menjadi Agen BRILink.

HERU PRAYITNO, Sampit 

Bacaan Lainnya

Uang ratusan juta rupiah tertumpuk di atas meja agen BRILink Arza Jaya, Jalan Muchran Ali, Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Minggu (9/3/2025). Fahrul Raji bersama karyawannya menghitung dengan hati-hati. Setelah memastikan jumlahnya tepat Rp 450 juta, Fahrul menyerahkan kepada Baehaqi, pengepul sawit asal Kecamatan Cempaga Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur.

BRILink Arza Jaya rutin melayani Baehaqi yang melakukan tarik tunai untuk membayar sawit dari para petani, terutama saat libur akhir pekan.

”Hari Sabtu dan Minggu tetap dilayani. Saya tinggal telepon Fahrul, uang langsung disiapkan,” kata Baehaqi yang kerap tarik tunai di BRILink Arza Jaya.

Tak hanya Baehaqi yang melakukan tarik tunai dalam jumlah besar di BRILink Arza Jaya Group. Ada lima pengepul sawit lainnya melakukan transaksi rutin dalam jumlah gede. Ada pula pengepul sarang walet yang melakukan hal serupa. Ini membuat kebutuhan uang tunai di Arza Jaya sangat besar.

Fahrul, pemilik BRILink Arza Jaya, mengatakan bahwa pengepul kelapa sawit dan sarang walet perlu uang tunai dalam jumlah besar setiap hari.

Untuk mengimbangi permintaan uang tunai dalam jumlah besar, Fahrul memberikan layanan jemput bola bagi para pedagang sembako dan toko bangunan yang ingin setor tunai.

”Misalnya mereka ingin setor Rp 50 juta, uangnya saya jemput. Saya dapat uang tunai, sementara mereka tak perlu repot-repot setor ke bank. Kalau uang jumbo disimpan di toko, ada risiko kemalingan,” ujarnya.

Dalam sehari, Fahrul bisa membukukan rata-rata 2.000 transaksi dengan volume Rp 2 miliar per hari. Ketika tanggal muda atau saat musim gajian, transaksi naik 50 persen.

”Saat tanggal muda atau saat musim gajian, bisa mencapai 3.000 transaksi per hari. Ada lonjakan karena saya juga melayani karyawan perkebunan kelapa sawit,” ujar pria berusia 35 tahun ini.

Besarnya transaksi BRILink yang dikelolanya tidak datang secara instan. Sebelum menjadi Agen BRILink, Fahrul memiliki usaha toko sembako. Dia memanfaatkan mesin Electronic Data Capture (EDC) untuk menerima transaksi pembayaran menggunakan kartu debit, kartu kredit, kartu BRIZZI, serta QRIS.

”Tahun 2018, saya menjadi agen BRILink agar bisa melayani tarik tunai, transfer, bayar tagihan listrik, tagihan air, isi pulsa, dan lainnya,” ujar Fahrul.

Keberadaan BRILink di tokonya ternyata dapat membantu menaikkan efektivitas usaha dan meningkatkan keterjangkauan masyarakat terhadap lembaga keuangan. Besarnya transaksi di BRILink merangsang Fahrul untuk mengelolanya secara serius.

Secara bertahap dia membuka beberapa gerai BRILink di dalam kota, diantaranya di Jalan Sukabumi, Jalan RA Kartini, Jalan Panjaitan, dan Jalan Kembali. Kini,  gerai BRILink yang dimiliki Fahrul mencapai 15 unit.

Menariknya, ada beberapa BRILink yang ditempatkan di samping gerai ATM, bahkan ada yang di samping kantor unit BRI. Misalnya BRILink di depan Hotel Wella Jalan Tjilik Riwut, berdampingan dengan gerai ATM BRI, Mandiri, BNI, dan Bank Kalteng.

”Banyak yang tanya, kenapa saya buka di samping ATM? Bahkan ada BRILink yang saya tempatkan di samping Unit BRI Jalan Tjilik Riwut,” ungkap Fahrul.

Dia menjelaskan, BRILink memiliki kelebihan dibandingkan ATM. Saat transaksi di ATM, nasabah harus memiliki rekening bank dan kartu ATM.

Sementara transaksi di BRILink, tidak harus memiliki rekening bank. Misalnya mau bayar listrik, PDAM, BPJS, beli pulsa, dan tranfer uang tidak harus punya rekening bank.

Pos terkait