Kedatangan Wakil Bupati Kotim Irawati ke Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) Sampit, jadi kesempatan emas bagi para pedagang mengutarakan segala keluh kesah. Mulai dari kemunculan pedagang liar hingga permintaan pedagang segera memperbaiki jalan PPM yang rusak.
HENY, Sampit | radarsampit.com
Berbelanja ke Pasar Tradisional sudah menjadi hal yang biasa dan rutin dilakukan Irawati. Sebagai orang nomor dua di Bumi Habaring Hurung, Irawati mengaku lebih sering berbelanja ke pasar tradisional dibandingkan supermarket modern.
Kebiasaannya itu bukan berarti tak mau berbelanja ke supermarket. Tetapi, ia hanya ingin membantu pedagang di pasar tradisional, terutama di PPM Kota Sampit yang pada masa awal pendiriannya tahun 2004 lalu, pernah menjadi satu-satunya pasar kebanggaan Kotim.
”Saya lebih sering memilih berbelanja di pasar tradisional dibandingkan supermarket modern.
Jadi, selain membantu pedagang, barangnya juga dikatakan cukup murah,” kata Irawati, Wabup Kotim, Sabtu (3/8/2024).
Irawati juga mengaku merasa lebih dekat dengan pedagang dan turut mendengar keluhan para pedagang.
”Kalau kita berbelanja langsung kita jadi tahu perbedaan harga di pasaran. Saya juga bisa menyapa dan mendengar apa yang menjadi keluhan pedagang yang banyak mengeluh penjualannya sepi semenjak berkembangnya pasar-pasar lain di Kota Sampit,” kata Irawati.
Irawati tak dapat menghentikan perkembangan pasar tradisional yang terus bertambah. Ia hanya menyemangati pedagang PPM agar tetap berjualan dengan memanfaatkan media sosial untuk menawarkan produknya.
”Rejeki itu sudah diatur Allah takaran porsinya, tinggal kitanya saja lagi yang lebih semangat menjemput rejeki itu agar sampai ke tangan para pedagang. Sekarang zamannya serba online, pedagang PPM mungkin bisa mencoba cara itu, dengan menawarkan produknya di medsos, membuka layanan pengiriman barang ke rumah konsumen. Memang terasa lebih melelahkan dan harus menambah karyawan, minimal satu orang khusus bertugas mengantar barang, cara ini bisa dicoba agar pedagang PPM tetap eksis bertahan,” kata Irawati.
Sambil berbelanja, Irawati juga memantau harga komoditas bahan pokok, seperti beras siam epang seharga Rp18 ribu per kg, minyak kita Rp16 ribu per liter, bawang merah Rp25-30 ribu per kg, bawag putih Rp38-40 ribu per kg, lombok kering Rp120 ribu per kg.
”Bawang merah terakhir saya beli Rp40 ribu per kg, sudah satu minggu ini turun jadi Rp25-30 ribu per kg. Untuk lombok kering ini, wajib ada di dapur, karena setiap Jumat menyediakan nasi kuning berkah pakai lauk ayam dan telur masak merah,” ucapnya.
Irawati juga mengaku tak punya langganan tetap. Dia berbelanja dengan pedagang mana saja sesuai barang yang ia cari dan butuhkan.
”Semua pedagang digilir saja, dimana ada barang yang dicari, disitu saya mampir. Kapan-kapan bantu belanja di pedagang lain lagi, jadi tahu perbedaan harga,” katanya.
Irawati juga membeli emping belinjo seharga Rp120 per kg dan bawang merah Rp25 ribu per kg. Dari areal pasar kering di PPM, Irawati melanjutkan langkah kakinya menuju Pasar Ikan Mentaya. Sebagai orang nomor dua di Kotim, ia tak terlihat risih menginjakkan kaki di atas lantai yang basah dan berbau amis.
Langkahnya terhenti di lapak yang menjual ikan kakap merah yang terlihat segar. Ikan itu dijual seharga Rp85 ribu per kg dan udang manis Rp65 ribu per kg. Tidak hanya ikan kakap, ia juga membeli ikan lain di pedagang lain yang lapaknya saling berhadapan.
Selesai berbelanja, Irawati masih meneruskan langkahnya menuju lapak sayur yang berada di ujung pasar.








