SAMPIT, radarsampit.com – Sampit menjadi salah satu daerah di Kalimantan Tengah yang memiliki pegiat hidroponik cukup banyak. Jumlahnya lebih dari 40 orang.
Hidroponik adalah metode pertanian yang menggunakan larutan nutrisi sebagai media tanam, tanpa melibatkan tanah.
Dalam sistem hidroponik, akar tanaman terendam dalam larutan nutrisi yang kaya akan unsur hara esensial untuk pertumbuhan tanaman.
Metode ini memungkinkan kontrol yang lebih baik terhadap nutrisi yang diberikan pada tanaman, sehingga pertumbuhan tanaman dapat dioptimalkan.
Sistem yang digunakan pegiat hidroponik di Sampit cukup beragam.
Mulai dari Nutrient Film Technique (NFT), Deep Flow Technique (DFT), rakit apung, irigasi tetes, dan sistem wick. Berikut Ini Penjelasannya
Nutrient Film Technique (NFT)
Nutrient Film Technique merupakan sistem yang paling banyak digunakan oleh pegiat hidroponik di Kota Sampit. Diantaranya adalah Mansyah, Gatot Pratama, Nurcahyo, Susilo Adi, dan banyak lagi.
Pada sistem ini, larutan nutrisi secara terus menerus dialirkan mengenai akar tanaman menggunakan pipa PVC dan pompa.
Posisi tanaman yang tumbuh pada lapisan aliran nutrisi yang dangkal dapat membuat sebagian akar terendam dan memperoleh nutrisi sehingga sebagian lainnya berada di atas memperoleh oksigen.
Nutrisi yang disediakan untuk tanaman akan diterima oleh akar secara terus menerus menggunakan pompa air yang ditempatkan pada tandon nutrisi.
Deep Flow Technique (DFT)
Deep Flow Technique adalah salah satu sistem tanam dalam hidroponik yang menggunakan genangan pada instalasi dan menggunakan sirkulasi dengan aliran pelan.
DFT hampir sama dengan sistem NFT, namun pada sistem ini instalasi yang digunakan tidak menggunakan kemiringan.
Bentuk instalasi pada DFT datar dan di ujung pipa ada penahan air sehingga dapat mempertahankan air nutrisi untuk menggenang.
Jadi, ketika listrik padam pun, tanaman tidak kekeringan. Ketinggian air nutrisi yang menggenang di dalam instalasi sekitar 2 centimeter sampai 4 centimeter.
Drip System (Irigasi Tetes)
Drip system adalah cara bercocok tanam hidroponik menggunakan sistem irigasi tetes untuk mengalirkan nutrisi ke wilayah perakaran melalui selang irigasi dengan menggunakan dripper yang diatur waktunya dengan timer.
Media tanam pada drip sistem ini yaitu batu apung, zeolit, sekam bakar, dan sabut kelapa yang berfungsi sebagai tempat akar berkembang.
Drip system ini biasanya digunakan untuk menanam sayuran dan buah-buahan, seperti cabai, paprika, tomat, melon, dan stroberi.
Nurcahyo menjadi salah satu pegiat hidroponik di Sampit yang menggunakan sistem irigasi tetes untuk menanam melon.
Floating Raft System (Rakit Apung)
Rakit apung atau Floating Raft System adalah salah satu teknik hidroponik yang menggunakan bak air sebagai wadah, dilengkapi styrofoam sebagai rakit untuk menjaga tanaman tetap mengapung.
Rockwool dan netpot digunakan sebagai tempat penanaman tanaman yang diletakkan di lubang styrofoam.
Salah satu pegiat hidroponik di Sampit yang menggunakan sistem ini adalah Mentayaponik milik Teguh Prihantoro.
Sistem Wick
Sistem hidroponik wick mengandalkan prinsip kapiler atau sumbu untuk menyalurkan nutrisi dari wadah ke akar tanaman.
Sistem ini tanpa memerlukan listrik atau pompa, sehingga cocok bagi mereka yang ingin belajar bercocok tanam secara hidroponik atau sekadar coba-coba. Sistem ini paling sederhana, mudah diterapkan, dan murah. (yit)








