SAMPIT, radarsampit.com – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menggelar salat Istisqa, memohon ampun pada Sang Pencipta sekaligus meminta hujan. Hal tersebut dilakukan sebagai respons bencana asap yang tengah melanda Kotim saat ini.
Kualitas udara di Kota Sampit kemarin (3/10) tercatat di angka 1.087 PM 10 dan 764 PM 2,5. Kategori pencemaran masih warna hitam, berbahaya apabila terhirup manusia.
Pantauan Radar Sampit, salat Istisqa yang digelar di lapangan Kantor Bupati Kotim, dilakukan di tengah asap. Ratusan masyarakat membawa sajadah dan mukena, melakukan salat Istisqa berjemaah sekitar pukul jam 07.30 WIB.
Salat diimami Ustaz Malik Ashari sebanyak dua rakaat. Seusai salat, ustaz juga mengajak masyarakat yang hadir untuk selalu beriman, bertakwa, dan berzikir memohon ampunan sebanyak-banyaknya atas segala dosa yang diperbuat.
”Saat musim kemarau ini, banyak sekali kebakaran lahan terjadi di Sampit. Kita sudah berusaha maksimal, ternyata tidak mampu, sehingga hari ini bersama Polres Kotim mengajak masyarakat melaksanakan salat Istisqa berjemaah, memohon ampun dan berdoa dengan sungguh-sungguh memohon agar Allah turunkan hujan, sehingga harapan kita, kabut asap dapat berkurang dan kualitas udara di Kota Sampit bisa membaik,” kata Bupati Kotim Halikinnor.
Halikinnor berharap doa yang dipanjatkan sungguh-sungguh itu segera diijabah Allah. Meskipun ia menyadari bencana karhutla yang terjadi juga atas kehendak Allah.
”Setiap bencana yang dihadapi, atas izin dan kuasa Allah. Artinya, kita tidak mungkin sanggup memadamkan total semua lahan yang terbakar. Apalagi daerah di Kotim ini lahan gambut. Jangankan ratusan hektare, satu hektare saja itu sulit dipadamkan apabila lahan yang terbakar itu lahan gambut,” ujar Halikinnor.
Halikinnor mengajak masyarakat semua lintas agama memperbanyak doa, memohon ampun dan memohon agar Allah segera menurunkan hujan.
”Inilah tujuan kita melaksanakan salat Istisqa. Selain memohon hujan, juga memohon ampun, beristigfar kepada Allah. Khususnya kepada warga yang dengan sengaja bakar lahan, segera minta ampunlah kepada Allah. Marilah tingkatkan kesadaran dan kepedulian. Jadikan kabut asap ini sebagai pembelajaran untuk bertobat dan memohon ampun,” katanya.
Terpisah, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kotim Sa’ban mengeluarkan imbauan menyikapi musim kemarau, kebakaran lahan, kabut asap, dan buruknya kualitas udara di Kotim. Imbauan itu ditujukan kepada pimpinan cabang Muhammadiyah dan segenap warga dan simpatisan Muhammadiyah di Kotim.
”Kami mengimbau seluruh warga Muhammadiyah untuk senantiasa memperbanyak doa dan istigfar. Diharapkan segera menginisiasi pelaksanaan salat Istisqa secara berjemaah di lapangan pada wilayah kecamatannya masing-masing untuk memohon kepada Allah SWT, agar secepatnya diturunkan hujan membantu mengurangi asap dan kebakaran lahan yang terjadi,” kata Sa’ban.
Ganggu Penerbangan
Sementara itu, di Palangka Raya, pekatnya kabut mengganggu penerbangan. EGM Bandara Tjilik Riwut Ardha Wulanigara mengatakan, pada awal Oktober, Senin (2/10), dua penerbangan dari Jakarta gagal mendarat, yakni Lion Air dan Batik Air. Jarak pandang yang hanya 800 meter, membuat pesawat dialihkan ke kota terdekat. Setelah di atas 1.000 meter, kembali terbang dan baru mendarat di Bandara Tjilik Riwut malamnya.
”Harapan kepada pemerintah daerah melalui BNPB dan Satgas Karhutla, intens melakukan penyiraman maupun pemadaman titik api. Pemerintah agar tegas menindak pelaku pembakaran yang telah menyebabkan bencana asap,” katanya.








