JEDDAH – Pimpinan PT.Najah Hurrahman Pangkalan Bun, dr. Hj. Erni Daryanti bersama Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri) saat ini tengah melaksanakan keberangkatan umrah perdana ke Arab Saudi. Biro perjalanan haji dan umroh (travel) resmi yang berkantor pusat di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah ini ikut serta dalam simulasi umrah bersama rombongan Amphuri yang berjumlah 55 orang.
Dokter Magister Ilmu Biomedik ini menceritakan, dari hasil simulasi yang dilaksanakan, sebelum berangkat umrah, calon jemaah terlebih dahulu diwajibkan memenuhi semua persyaratan. Di antaranya telah mengikuti program vaksinasi Covid-19 yang dibuktikan dengan kepemilikan sertifikat vaksin.
Kemudian setibanya di Jakarta, tepat satu hari sebelum jadwal keberangkatan, para calon jemaah juga wajib menjalani tes PCR di rumah sakit yang direkomendasikan Pemerintah Arab Saudi. Setelah memiliki dokumen PCR dengan hasil negatif, calon jemaah juga diharuskan memiliki asuransi umrah Zurich dan juga telah disuntik vaksin Meningitis.
Erni melanjutkan, apabila semua dokumen yang disebutkan telah lengkap, baru calon jemaah umrah bertolak ke Bandara Soekarno Hatta untuk diberangkatkan ke Jeddah, Saudi Arabia.
Dokumen lainnya yang tak kalah penting yang perlu disiapkan calon jamaah, mulai dari paspor, boarding pass, dan tanda pengenal pendukung lainnya. “Di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, semua dokumen persyaratan akan diperiksa kembali oleh petugas bandara, termasuk PCR yang sudah ditranslate ke Bahasa Arab,” ungkapnya, Jum’at (31/12/2021).

Proses pemeriksaan berlangsung cepat, jemaah kemudian diarahkan menuju hotel dengan menggunakan bus untuk menjalani karantina mandiri selama lima hari. Kapasitas bus juga hanya diperbolehkan diisi 50 persen dari jumlah kursi penumpang.
Setibanya di hotel, para jemaah masuk kamar satu per satu atau satu kamar hanya boleh diisi satu jemaah. Karantina ini berlaku untuk semua jenis vaksin yang didapatkan warga Indonesia, baik Sinovac, Astrazeneca, Pfizer, Moderna, Sinopharm, dan lainnya. “Jadi sebelum beribadah ke Makkah dan Madinah, jemaah dari Indonesia dikarantina dulu selama lima hari di hotel yang ada di Jeddah. Untuk biayanya ditanggung masing-masing,” terang dia.
Ia menambahkan, keikutsertaannya dalam simulasi umrah perdana ini terasa spesial, sebab dari 1.540 biro travel haji dan umroh se-Indonesia hanya 37 Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) yang terpilih, salah satunya PT.Najah Hurrahman Pangkalan Bun.
“Harapannya dengan simulasi ini, PT.Najah Hurrahman bisa mempelajari alur perjalanan umrah yang lebih aman di masa new normal atau kebiasaan baru. Sehingga dikemudian hari apabila ada masalah atau kesulitan ketika para jemaah berangkat nanti, kami dari travel sudah bisa mengantisipasi dan memberi tahu lebih awal kepada calon jemaah saat ibadah umrah sudah diizinkan oleh pemerintah RI,” terang Erni Daryanti.
Pelaksanaan simulasi umrah perdana ini menjadi angin segar bagi umat muslim tanah air, mengingat dua tahun terakhir keberangkatan umrah dari Indonesia vakum akibat pandemi Covid-19. (sam/sla)








