PANGKALAN BUN, radarsampit.com – Sejumlah sumur milik warga di Kecamatan Pangkalan Lada, Kabupaten Kotawaringin Barat, mulai mengering akibat musim kemarau. Warga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air bersih. Seperti di Desa Kadipi Atas Kecamatan Pangkalan Lada, sumur sudah kering sehingga warga harus mencari sumber air di tempat lain.
“Perkiraan sudah 20 persen sumur warga kering, tapi masih bisa teratasi harapan kita segera turun hujan,” kata Kepala Desa Kadipi Atas Sudiono, Jumat (29/9/2023)
Di Desa Kadipi Atas ada Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) tapi tidak bisa melayani masyarakat dengan maksimal.
“Pamsimas ini kita desa tidak disuport dana awal, sehingga kita juga kesulitan untuk mengeluarkan anggaran dari Dana Desa, karena dana desa sudah jelas peruntukannya, sedangkan kadang kala masyarakat tidak mengetahui hal itu,” jelasnya.
Tidak jauh berbeda di Desa Sungai Melawen, dari jumlah 870 Kepala Keluarga (KK) yang sumurnya masih bagus hanya berkisar 61 KK saja. Sementara untuk kebutuhan air bersih warga harus membeli air dengan harga Rp 80 ribu – 90 Ribu per tangki ukuran 1.200 Liter.
“Di Desa Kami, 87 persen sumur warga kering, untuk mencukupi kebutuhan air bersih warga terpaksa membeli air, sebagian mencari sumber air ke dataran rendah yang berdekatan dengan rawa atau sungai,” jelas Sekretaris Desa Sungai Melawen Winarto.
Selain itu, warga juga dibantu melalui Pamsimas yang dikelola warga meskipun belum maksimal. “Yang sudah teraliri Pamsimas sekitar 50 KK, namun saat ini Pamsimas desa juga melayani untuk warga namun harus datang mengambil ke titik lokasi mengingat instalasinya belum mencakup semua wilayah,” jelasnya.
Kepala Desa Sungai Melawen Muhammad Andik menambahkan, Pamsimas ini kendalanya adalah desa tidak berani mengeluarkan modal awal, kecuali harus konsultasi terlebih dahulu agar tidak salah nantinya. Kendala lain, topografi desa antara dataran rendah ke dataran tinggi belum bisa terjangkau dalam penyebaran distribusi air.
“Kita sulit mengembangkan karena pada dataran tinggi air tidak mengalir, selain itu bahan meteran air juga harus membeli di pulau Jawa sehingga membutuhkan biaya besar,” jelasnya.
Tidak jauh berbeda di Desa Lada Mandala Jaya dan Desa Sumber Agung. Namun sebagian ditopang dengan adanya PDAM. Sebagian desa yang sudah ditopang PDAM adalah Desa Pandu Senjata, Sumber Agung, Pangkalan Desa dan Pangkalan Tiga.
Terpisah, Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kobar Martogi Siallagan mengatakan, hingga saat ini pihaknya belum menerima adanya permintaan distribusi air bersih kepada warga. “Sampai saat ini belum ada yang meminta bantuan air bersih, sepertinya masih bisa teratasi, tetapi memang sudah banyak juga sumur warga yang mengering,”jelasnya.
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Kelas III Iskandar Aqil Ihsan mengatakan, keadaan atmosfer pada 29 September tidak ada gangguan cuaca. RH pada lapisan 500mb, 700mb dan 850mb cenderung kering . Angin gradien cukup kencang dari arah Tenggara. “Diperkirakan tidak terjadi hujan hingga dua hari ke depan. Perkiraan November Dasarian kedua nanti masuk musim hujan,” bebernya. (sam/yit)








