Oleh: Dicky Kurniawan, Mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan, Departemen Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Semester 3, Universitas Negeri Malang.
Ungkapan “Kesatrian di atas maupun di luar matras” sudah lama menjadi napas dalam cabang olahraga gulat. Kalimat itu bukan sekadar semboyan, melainkan pengingat bahwa seorang pegulat tak hanya bertarung dengan otot, tetapi juga dengan sikap, integritas, dan harga diri. Di balik setiap kemenangan, ada kewajiban untuk tetap menghormati lawan, menjunjung sportivitas, dan menjaga kerendahan hati, baik saat berada di atas matras maupun setelah pertandingan usai.
Dalam dunia olahraga, setiap cabang memang memiliki kisah perjuangannya masing-masing. Namun gulat menawarkan tantangan yang sangat lengkap. Dari kejauhan, orang mungkin melihat gulat hanya sebagai adu dorong dan saling menjatuhkan. Padahal, proses menuju matras jauh lebih rumit. Seorang atlet harus membangun kekuatan fisik, menguasai teknik bantingan, dan menata mental agar tetap tenang dalam tekanan. Ketiga aspek itu berjalan berdampingan dan menjadi fondasi bagi siapa saja yang ingin bertahan di olahraga yang keras ini.
Pelatih, atlet senior, hingga mereka yang pernah bertahun-tahun bergulat sering kali menyimpan kisah yang membuka mata. Salah satunya adalah cerita pelatih saya sendiri, cerita yang membuat saya menyadari bahwa gulat bukan hanya soal kuatnya tubuh, tetapi juga soal keteguhan hati dan kejelasan pikiran.
Gulat memang identik dengan kekuatan fisik. Namun lebih dari itu, ada tuntutan untuk mampu melihat peluang dalam hitungan detik. Setiap gerakan di atas matras harus presisi. Setiap keputusan harus cepat. Sedikit lengah, pertandingan bisa langsung berbalik arah. Itulah alasan pegulat dikenal memiliki disiplin dan daya juang yang luar biasa. Mereka tak hanya berlatih untuk memperkuat otot, tetapi juga mengasah kemampuan mengendalikan diri, membaca situasi, dan bertindak efektif di tengah tekanan lawan.
Beberapa malam lalu, saya berbincang cukup lama dengan pelatih mengenai perjalanan beliau di dunia gulat. Awalnya saya hanya ingin mendengar sedikit cerita masa mudanya sebagai atlet. Namun yang saya dapatkan justru rangkaian pengalaman yang begitu dalam. Dari cedera hingga kesabaran menghadapi masa pemulihan, semua membentuk sosok pelatih seperti yang saya kenal hari ini.






