Cedera atau mencederai untuk menang?

kesatria di atas matras
Ilustrasi.

Beliau bercerita tentang cedera bahu, cedera kaki, hingga masa-masa sulit ketika hampir tidak bisa berjalan dengan normal. Saya cukup terkejut mendengarnya, karena selama ini saya hanya melihat sisi terbaiknya, seorang juara, seorang pelatih yang kuat dan disiplin. Namun cerita itu memperlihatkan bahwa pencapaian tidak datang tanpa rasa sakit. Ada banyak pengorbanan yang tak terlihat oleh mata.

Yang membuat saya benar-benar terinspirasi adalah cara beliau menghadapi semua cedera itu. “Rasa sakit itu bukan akhir, tapi bagian dari proses,” ujar Supriono,(30 /10/ 25). Ketika banyak orang menyarankan agar berhenti, beliau justru memilih percaya pada dirinya sendiri. Ia menjalani pemulihan dengan sabar, kembali latihan sedikit demi sedikit, dan menjaga semangatnya agar tidak padam. Dari perjalanan panjang itu, gelar juara akhirnya kembali ia rebut.

Bacaan Lainnya

Dari situlah saya memahami bahwa kesuksesan di olahraga, khususnya gulat, tidak pernah hadir secara instan. Cedera dapat datang kapan saja, tetapi bagaimana kita bersikap yang menentukan apakah cedera menjadi alasan menyerah atau justru titik balik untuk bangkit. Pelatih mengajarkan bahwa keteguhan mental, kesabaran, dan konsistensi adalah kunci utama. Selama tidak takut gagal dan berani melanjutkan langkah, pintu keberhasilan selalu terbuka.

Pengalaman itu membuat saya menyadari bahwa menjadi juara tidak hanya soal kuat fisik. Perjalanan Panjang, jatuh, bangkit, dan terus berjalan adalah hal yang dialami semua atlet. Ada yang memilih berhenti ketika masalah datang. Ada juga yang bertahan, meski pelan, hingga akhirnya mencapai puncak.

Pelatih saya menjadi contoh nyata bahwa ketekunan akan membawa kita menuju hasil. Ceritanya membuat saya semakin yakin bahwa dalam gulat maupun dalam kehidupan, pemenang bukanlah mereka yang paling kuat, tetapi mereka yang paling mampu bertahan, belajar, dan terus maju apa pun rintangannya.

 

 

Pos terkait