Cuaca Buruk Bikin Petani Karet di Kalteng Kian Terpuruk

petani karet
Ilustrasi Petani Karet (net)

SAMPIT, radarsampit.com – Musim penghujan belakangan ini membuat para petani karet harus berhenti total bekerja. Sebagian harus banting setir bekerja di bidang lain. Hal tersebut sudah berlangsung sebulan terakhir, karena hampir setiap hari hujan turun dan sebagian kebun mereka banjir.

”Sudah sebulan tidak bisa kerja, karena harinya hujan setiap hari. Kalau tidak sore, malamnya hujan dan paginya tidak bisa menyadap, karena batang karetnya basah,” kata Tasman, petani karet di Kotabesi, Minggu (3/3/2024).

Bacaan Lainnya

Menurutnya, jika pohon karet basah, maka hasil sadapan tidak maksimal. Karet cair yang harusnya mengalir ke mangkok penampungan keluar dari jalurnya. Selain itu, pohon karet juga cepat rusak.

Biasanya, dalam sebulan dia bisa mendapatkan karet hingga 3 kuintal. Namun, kini hanya sekitar 30 kilogram. Satu kilogram dihargai sampai Rp9.000. ”Harganya bagus, tapi tidak bisa bekerja dan karet warga memang rata-rata kosong,” ungkapnya.

Petani lainnya, Sarwino menuturkan, musim hujan bagi petani karet memang hal yang  menyedihkan. Mereka sama sekali tidak bisa bekerja. ”Kesedihan petani seperti kami ini, kalau sudah musim hujan karena memang gak bisa kerja. Harus cari kerjaan lain, sementara cari kerjaan lain bukan hal yang gampang,” ungkapnya.

Di sisi lain, keahlian mereka sangat terbatas. Ditambah tingkat pendidikan hanya lulusan SMP.

”Masalahnya kami ini, kalau kerjaan lain sulit diterima. Mau jadi buruh tukang tidak bisa juga selain memotong rotan. Menyadap karet ini jadi kerjaan turun temurun,” jelasnya.

Baca Juga :  Diprediksi Meningkat, Polres Kotim Waspadai Peredaran Narkoba Jelang Akhir Tahun

Sebagai petani, dia berharap kepada presiden terpilih agar memperhatikan nasib petani kecil.

”Semoga presiden baru bisa membawa nasib petani seperti kami ini lebih baik. Paling utama adalah harga jual hasil kami bisa mengimbangi kebutuhan hidup. Kalau dulu, karet satu kilo bisa beli beras 1 kg harganya. Sekarang, hasil 1 kilogram kami bisa beli beras setengah kilo saja,” kata Tasman.

Saat ini, harga jual karet di tingkat petani jauh dari kata ideal dan masih jadi permainan pasar. Pemerintah daerah dinilai tutup mata dengan keluh kesah petani.

Pos terkait