JAKARTA, radarsampit.com – Ratusan Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) menanggung kerugian hingga miliaran rupiah akibat visa haji furoda yang tak kunjung terbit.
Padahal, jamaah dan travel sudah mempersiapkan segala kebutuhan. Mulai dari tiket pesawat hingga akomodasi di Arab Saudi.
“Banyak travel yang sudah input data dan bayar layanan Masa’ir (layanan Arafah, Muzdalifah, Mina), tapi visanya tidak jadi,” kata Ketua Bidang Humas dan Media Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (DPP Amphuri) Abdullah Mufid Mubarok dikutip dari laman resmi Amphuri, Jumat (30/5).
Mufid mengungkapkan, visa furoda tahun ini memang tidak akan terbit. Hal ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Di mana visa furoda biasanya baru keluar di akhir masa keberangkatan.
Kebanyakan travel berasumsi visa furoda akan turun seperti tahun sebelumnya, sehingga mereka sudah memesan tiket pesawat dan hotel meski harganya melambung tinggi. Apalagi, biasanya visa furoda baru keluar mendekati hari H wukuf di Arafah.
“Ternyata sampai sekarang tidak ada yang terbit. Banyak travel yang sudah booking tiket dan hotel, bahkan ada yang dari bintang 3 di-upgrade ke bintang 5. Akhirnya rugi besar,” ujar Mufid.
Kerugian travel tidak main-main. Untuk jamaah sekitar 50 orang, kerugian bisa mencapai Rp 1-2 miliar.
Beberapa travel bahkan sudah membawa jamaahnya ke Jakarta, berharap visa akan turun di menit-menit terakhir.
“Saya masih belum bisa menghitung, yang jelas di atas Rp 100 (juta)-an. Kalau jumlah jamaahnya misalnya sampai 50 ke atas ya sudah di atas Rp 1 M, Rp 2 M (miliar),” ungkapnya. Mufid mengapresiasi upaya Menteri Agama RI yang masih berusaha melobi pemerintah Saudi. Namun, secara teknis, hal ini bisa merepotkan jika visa hanya keluar sebagian.
“Misalnya dari 10.000 jamaah, yang dapat visa cuma 1.000. Travel akan kebingungan mengatur jamaah yang dapat dan tidak. Belum lagi harus buru-buru beli tiket dan pastikan layanan di Arab Saudi benar-benar siap,” jelasnya.
Meski banyak travel yang mengembalikan uang jamaah jika visa tidak terbit, proses refund tidak instan. Karena dana sudah terpakai untuk berbagai keperluan.
Beberapa jamaah juga sudah mengeluarkan biaya tambahan seperti pemeriksaan kesehatan dan transportasi.
“Kalau travel berpengalaman, biasanya tidak booking tiket dulu untuk minimalisir risiko. Tapi harganya pasti lebih mahal,” imbuh Mufid.
Situasi serupa sebenarnya pernah terjadi pada 2022, saat visa furoda juga sulit terbit. Bedanya, saat itu masih ada tanda-tanda visa akan keluar, meski jumlahnya sedikit.
“Tahun ini benar-benar tidak ada. Sistem sudah close (tutup) sejak 26 Mei. Kami sudah minta travel komunikasi ke jamaah agar tidak ada harapan palsu,” pungkas Mufid.
Sekjen DPP Amphuri Zaky Zakaria Anshari menambahkan, kebijakan ini merupakan bagian dari otoritas pemerintah Saudi yang berwenang penuh atas penyelenggaraan ibadah haji, termasuk dalam pemberian visa nonkuota seperti furoda.
Ia menilai langkah ini merupakan bagian dari upaya Saudi melakukan transformasi besar dalam sistem haji mereka. Transformasi ini, lanjut dia, bertujuan menciptakan penyelenggaraan haji yang lebih tertib, aman, dan nyaman. Saudi tidak ingin kejadian tahun lalu terulang, di mana ribuan jamaah dilaporkan meninggal dunia di Mina akibat cuaca panas ekstrem dan keterbatasan fasilitas, termasuk tenda.
“Nah ini yang mungkin di antara yang membuat kenapa furoda ini tidak ada. Menurut media Arab, 85 persen dari jamaah yang wafat tahun lalu adalah yang non-prosedural. Nah mungkin Saudi tidak ingin mengulang kejadian tahun lalu. Mereka mulai menyesuaikan jumlah Jamaah dengan kapasitas, khususnya kapasitas Mina yang sangat terbatas,” ungkapnya.








