Mantan Kontraktor Proyek Ungkap Kondisi Sebenarnya Gerbang Sahati

gerbang
PANEN KRITIK: Pengerjaan proyek renovasi Gerbang Sahati menuai kritikan dari banyak kalangan. (HENY/RADAR SAMPIT)

SAMPIT – Pembangunan Gerbang Sahati pada 2013 silam sebenarnya sempat menuai protes. Salah satunya dari Jhon Krisli saat masih menjabat Ketua DPRD Kotim. Namun, protes itu hanya terkait perencanaan pembangunan serta penempatannya yang  dianggap tidak tepat. Meski diprotes, Pemkab Kotim saat itu tetap melanjutkan proyek itu.

Hal tersebut diungkapkan mantan pekerja proyek Gerbang Sahati Ardiansyah. ”Proyek itu pernah diprotes tahun 2013 dan saya yang mengerjakannya. Tapi saat itu tetap kami lanjutkan pembangunannya,” katanya, Senin (7/9).

Bacaan Lainnya

Ardiansyah menuturkan, pembangunan itu menelan dana lebih dari setengah miliar rupiah. Saat itu proyek tersebut dilelang dan perusahaan miliknya yang menang.  Sebagai rekanan, pihaknya hanya mengerjakan sesuai spesifikasi dan gambar yang sudah tertuang dalam dokumen kegiatan. Sejak saat itu gerbang tersebut dinamakan Gerbang Sahati.

Menurutnya, mengerjakan proyek tersebut bukan hal mudah. Apalagi saat itu tidak dilakukan penutupan jalan seperti sekarang. ”Kalau kontraktor yang sekarang kerjanya gampang, karena jalan ditutup,” tuturnya.

Ardiansyah juga menegaskan, struktur bangunan yang mereka kerjakan sangat kokoh, sehingga masih kuat menopang beban di atasnya. Kalau pun ada kerusakan, masih dalam batas toleransi.

”Karena saya yang membangunnya, jadi saya anggap itu kuat, karena mulai dari struktur, pondasi, pembesian, dan betonnya semuanya sesuai dengan standar. Jadi, saya masih meyakini  gerbang itu masih kuat,” katanya.

Kepala Seksi Pengujian Bidang Jasa Konstruksi dan Pengendalian Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Kawasan Permukiman (PUPRKP) Kotim Rayawati sebelumnya mengatakan, Gerbang Sahati akan dirombak menjadi lebih indah menggunakan konstruksi bangunan yang lebih ringan. Hal itu dilakukan untuk meminimalisasi risiko bagi setiap pengendara yang melintas.

”Setiap pengendara yang lewat lama-kelamaan mengakibatkan keretakan pada betonnya. Kalau ini tidak segera diperbaiki, cepat atau lambat Gerbang Sahati bisa runtuh dan dikhawatirkan mengenai pengendara yang lewat,” ujarnya.

Gerbang Sahati memiliki panjang sekitar 13 meter dan tinggi 12 meter. Pilar gerbang yang identik berwarna hijau tua dan merah marun, diubah menjadi warna merah cerah dominan dan tetap menggunakan warna hijau dengan tambahan kuning.

Kubah yang sebelumnya menggunakan material beton sepenuhnya, diubah menggunakan material campuran beton dan serat kaca yang dinamakan Glass Reinforced Concrete (GRC). Pada bagian sisi kanan dan kiri kubah akan dipasang ornamen ciri khas Kota Sampit, yakni miniatur ikan jelawat.

”Kubah beton bobotnya bisa mencapai 300 kg. Setelah dirombak nanti, beban di atas Gerbang Sahati tidak begitu berat. Tingkat risikonya juga minim. Selain tahan lama, getaran yang ditimbulkan dari pengendara yang lewat tidak sampai mengakibatkan keretakan,” katanya.

Rayawati mengatakan, usulan perbaikan Gerbang Sahati ini sudah direncanakan sejak masa kepemimpinan Supian Hadi. ”Gerbang dinilai sudah retak dan jika terus dibiarkan, dikhawatirkan bisa runtuh,” katanya. (ang/ign)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *