Perkembangan Masjid Jami Assalam Kota Sampit dari tahun ke tahun cukup pesat. Masjid ini bisa dikatakan tertua di Kota Sampit. Jemaah yang terus bertambah sejak masuknya perdagangan hingga sekarang, membuat masjid ini terus eksis memberikan pelayanan terbaik untuk jemaah.
HENY, Sampit | radarsampit.com
Letak Masjid Jami Assalam yang sangat strategis dekat, dengan Pelabuhan Sampit dan Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) Sampit, menjadikan masjid ini tak pernah sepi dari jemaah yang datang untuk menunaikan ibadah salat.
Bangunan Masjid Jami mengarah langsung ke Sungai Mentaya yang berada di Jalan Iskandar, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Masjid ini juga dapat diakses dari arah barat melewati Jalan Ir Juanda.
Pembangunan Masjid Jami diawali sejak masuknya usaha perdagangan di Kota Sampit. Dulunya masjid ini hanyalah musala atau masyarakat menyebutnya langgar berukuran 4x 5 meter yang dibangun tahun 1876 di atas tanah wakaf dari Ismail, seorang saudagar yang menjalankan bisnis perniagaan di Kota Sampit.

Dalam catatan sejarah singkat Masjid Jami Kota Sampit yang dibuat pada 12 September 1996 dan ditandatangani Sekretaris Yayasan Masjid Jami Misranie Saleh, terungkap renovasi perluasan masjid menjadi 28 x 32 meter pertama kali dilakukan pada tahun 1928 atau 52 tahun setelah bangunan masjid lama berdiri.
Melihat perkembangan jamaah yang terus bertambah, tahun 1979 masjid diperluas lagi menjadi 60 x 23 meter. Pembangunan saat itu diprakarsai tokoh agama, sehingga dibentuk Panitia Pembaharuan Bangunan Masjid Jami Kota Sampit yang diketuai oleh Haji Muhammad Aini.
Sekitar tahun 1987, bangunan masjid yang tadinya terbuat dari kayu direnovasi menjadi beton. Pada tahun 2000, Masjid Jami dirombak total berukuran 34 x 24 meter dengan luas bangunan 1.500 meter persegi termasuk teras samping dan sekarang di tahun 2024 bangunan Masjid Jami lebih luas dengan ukuran 50 x 30 meter berlantai dua.

”Dulu sebelum ada jalan, ada banyak kuburan di atas tanah masjid yang kemudian makam dipindahkan tidak jauh dari lokasi masjid. Saya tidak tahu persis tahun berapa renovasi rombak total pembangunan masjid dari bahan kayu berubah menjadi menjadi bangunan beton. Yang saya ingat, ketika masuk ke Sampit tahun 2001 lalu, bangunan tingkat dua sudah ada dan lantainya sudah diganti marmer sekitar tahun 2004,” kata Ali Sadikin, Ketua Takmir Masjid Jami Assalam.
Pendatang asal Banjarmasin berusia 52 tahun ini dahulunya membeli tanah pada tahun 2004 di Jalan Ir Juanda, tak jauh dari Masjid Jami yang sekarang menjadi rumah tingkat dua bergaya eropa klasik yang dibangunnya tahun 2010. Lantai satu dijadikan tempatnya berdagang bawang merah dan bawang putih yang dinamakan Toko Ali Bawang.
Selama 20 tahun tinggal d ilingkungan dekat Masjid Jami, membuatnya aktif menjadi jemaah, karena jarak rumahnya menuju masjid hanya sekian langkah.
”Walaupun saya tidak dilibatkan di pengurusan Masjid, saya merasa terpanggil untuk berkiprah dan aktif membantu setiap kegiatan di Masjid Jami. Sampai tahun 2023 lalu saya dipercaya menjadi Ketua Takmir Masjid Jami menggantikan Pak Said Alwi Hasan,” kata Ali Sadikin.

Lebih lanjut Ali mengatakan, pada 2005, Masjid Jami mulai membangun menara dengan ketinggian 30 meter dan menaikkan kubah menara pada 3 April 2007. Pada 2017, kubah masjid yang tadinya berbahan semen cukup berat, sepakat diganti dengan corak lebih modern dan aman, karena berbahan alumunium yang tidak seberat semen.
Sebelum diberi nama Masjid Jami Assalam, masyarakat hanya mengenal Masjid Jami Kota Sampit. ”Penambahan nama Asssalam itu baru sekitar dua tahun lalu saja, karena orang tahunya Masjid Jami, tapi kalau kita mencari di google ketika mengetik Masjid Jami, muncul ada banyak Masjid Jami. Makanya ditambah nama Assalam agar mudah dicari dan diingat,” kata Ali.








