Minim Peminat, Sembilan TK di Sampit Tutup Operasional

sekolah
PENGENALAN SEKOLAH: Kegiatan MPLS yang digelar pada tahun ajaran baru 2024-2025, beberapa waktu lalu. (Dok. YUNI/RADAR SAMPIT)

SAMPIT, radarsampit.com – Minimnya peserta didik baru pada jenjang Taman Kanak-Kanak (TK) berdampak pada eksistensi beberapa TK di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Tercatat ada sembilan TK yang berhenti operasional karena ketiadaan peserta didik.

”Kami mencatat ada sembilan TK yang berhenti operasional tahun ini karena tidak ada lagi siswanya,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Kotim Muhammad Irfansyah.

Bacaan Lainnya

Awalnya, kata Irfansyah, pihaknya  mendata sekolah-sekolah yang status akreditasinya mati dan meminta pihak sekolah untuk melakukan re-akreditasi. Namun, saat mendata di lapangan  diketahui ada sejumlah sekolah TK yang tidak lagi operasional.

”Dari situ baru diketahui bahwa sekolah yang akreditasinya mati tersebut sudah tidak beroperasi atau tidak ada lagi kegiatan belajar mengajar,” tuturnya.

Dia melanjutkan, sembilan TK tersebut merupakan sekolah swasta yang sebagian besar berada di pinggiran kota.

Sekolah tersebut, yakni TK Pelangi, TK Jannatul Firdaus, TK Aisyiyah Terpadu PDA Kotim, TK Dewi Jupiter, TPA Pembimbing, TK Pelita, SPS An Nur, KB Al Huda dan TK Tunas Rimba.

”Untuk sekolah yang tidak lagi operasional tersebut sudah kami laporkan ke pusat agar statusnya di data pokok pendidikan (Dapodik) menjadi tidak operasional. Disdik tidak berwenang untuk menutup sekolah,” jelasnya.

Menurutnya, kebanyakan sekolah yang menyerah atau memutuskan berhenti operasional tersebut merupakan sekolah swasta yang mengandalkan dana dari Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP), meski ada pula yang mengandalkan yayasan.

Baca Juga :  WOW!!! Mal Pelayanan Publik Kotim Dilengkapi Eskalator Seharga Mobil Mewah Porche

”Sementara besaran dana BOSP dari pemerintah pusat berdasarkan jumlah peserta didik. Jika jumlah peserta didik sedikit maka dana BOSP yang diterima juga semakin kecil, yang kemungkinan tidak mencukupi untuk operasional sekolah,” jelasnya.

Tak lagi operasiobalnya sembilan TK, menurutnya, cukup memprihatinkan. Akan tetapi, hal itu harus menjadi pelajaran bagi sekolah lainnya.

Irfansyah menilai untuk menarik minat masyarakat bersekolah di satuan pendidikan tidak hanya dilihat dari infrastruktur atau bangunan sekolah yang bagus saja, melainkan sumber daya manusia (SDM) dan prestasi yang telah diraih satuan pendidikan tersebut. Secara tidak langsung hal ini yang akan menarik minat peserta didik baru untuk bersekolah di tempat tersebut.

”Jadi, memang sekolah harus berlomba-lomba meraih prestasi. Makanya, kalau ada murid yang juara dalam perlombaan, contohnya O2SN dan FLS2N, itu akan menjadi bahan promosi sekolah. Capaian prestasi tersebut sebagai bukti bagaimana pembinaan di sekolahnya,” tandasnya.

Di samping itu, kata dia, untuk pola pembelajaran, satuan pendidikan saat ini juga harus mengikuti perkembangan zaman. Sebab, walaupun ada sistem zonasi, sekolah tujuan tetap menjadi pilihan masyarakat.

”Kami dari Disdik ataupun pemerintah daerah tidak bisa bisa memaksa masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di sekolah tertentu, walaupun misalnya ada sekolah di sebelah rumahnya,” tegasnya.

Orang tua atau wali murid, lanjut Irfansyah, tentunya memiliki pertimbangan dalam memilih sekolah yang menurut mereka terbaik bagi putra-putrinya. Banyak faktor yang menjadi pertimbangan masyarakat memilih sekolah tertentu. Bukan hanya dari jarak sekolah, melainkan juga SDM tenaga pengajar, prestasi, citra dan mutu dari masing-masing satuan pendidikan. (yn/ign)

Pos terkait