Peringati Hari Kontrasepsi Sedunia, RSUD dr Murjani Sampit Berikan Pelayanan KB Gratis

rsud murjani
PELAYANAN KB : Tenaga kesehatan di RSUD dr Murjani Sampit menunjukkan wajah senangnya setelah selesai melayani pasien yang melakukan pemasangan kontrasepsi dengan metode operasi wanita (MOW) di ruang operasi, RSUD dr Murjani Sampit, Rabu (4/10/2023). (Istimewa/Radar Sampit)

SAMPIT, radarsampit.com – Dalam rangka mendukung pemerintah mensukseskan program keluarga berencana dan pengendalian pertumbuhan penduduk, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPPAPPKB) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) bekerjasama dengan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Murjani Sampit memberikan pelayanan KB gratis.

Pelaksana tugas (Plt) Direktur RSUD dr Murjani Sampit dr Sutriso mengatakan pelayanan KB gratis diselenggarakan untuk memperingati Hari Kontrasepsi Sedunia (World Contraception Day) yang jatuh pada 26 September 2023 lalu.

Bacaan Lainnya

“Rumah sakit berkomitmen memberikan pelayanan kesehatan rujukan yang paripurna dengan pelayanan terbaik, cepat dan kekinian. Pelayanan KB di rumah sakit tidak dikenakan biaya, gratis untuk para ibu yang masih dalam usia subur. Proses layanan KB, aman dan minim efek samping,” kata dr Sutriso.

Sebagaimana diketahui, alat kontrasepsi jangka panjang (MKJP) digunakan dengan tujuan untuk menunda, mejarangkan kehamilan jangka panjang yang meliputi alat kontrasepsi IUD (Intra Uterine Device) atau masyarakat awam mengenalnya dengan KB spiral berbahan plastik dan berbentuk seperti huruf T yang dipasang di dalam rahim untuk mencegah kehamilan.

Adapula alat kontrasepsi implant atau susuk KB yang berbahan tabung plastik elastis berukuran kecil menyerupai korek api yang dimasukkan ke jaringan lemak pada lengan atas wanita. Dan, alat kontrasepsi kontap (kontrasepsi mantap) disebut mantap karena alat kontrasepsi jenis ini dapat mencegah kehamilan dalam jangka waktu lama (tidak terbatas). Berbeda halnya dengan, IUD yang efektif mencegah kehamilan selama 10 tahun dan implan hanya 3 tahun.

Dokter Spesialis Obgyn (kandungan) Elva Yonatan mengatakan pelayanan pemasangan alat kontrasepsi yang diberikan kali ini dilakukan dengan metode operasi wanita (MOW) atau tubektomi yang dikenal dengan kontrasepsi mantap.

Metode kontrasepsi ini dilakukan dengan cara pembedahan laparatomi (minilap) dengan mengiris kecil dinding perut kurang lebih 2-3 cm. Kemudian, dilanjutkan tindakan pengikatan dan pemotongan pada saluran telur (tuba fallopi) agar sel telur tidak dapat dibuahi oleh sperma.

“Pelayanan kontrasepsi ada yang jangka panjang seperti IUD, implant dan MOW. Ada juga kontrasepsi jangka pendek seperti penggunaan suntik KB dan pil KB. Pada pelayanan kali ini, pasien kami berikan edukasi dan penanganan kontrasepsi MOW menggunakan laparoskopi (proses bedah dibagian perut tanpa harus membuat sayatan besar), setelah dioperasi kami pasang cincin dibagian tuba falopi (tempat pertemuan sel telur dengan sperma) untuk mencegah terjadinya pembuahan atau kehamilan,” kata dr Elva Yonatan Sp Obgyn yang bertugas di RSUD dr Murjani Sampit.

Layanan MOW sudah berjalan selama empat tahun di RSUD dr Murjani Sampit. Proses pelayanan operasi berlangsug cepat sekitar 15-30 menit dan sangat minim efek samping.

“Hari ini yang dilayani ada 13 pasien, dua pasiennya tidak memenuhi syarat, sehingga hanya 11 pasien yang dilayani MOW. Proses operasi tidak memerlukan waktu lama, jam 12 siang pelayanan operasi selesai. Semua pasien yang dioperasi diperbolehkan langsung pulang, karena ini hanya operasi kecil dan minim risiko,” ujarnya.

Elva menjelaskan penggunaan metode operasi wanita (MOW) sangat minim efek samping. Pasien tidak perlu khawatir setelah dilakukan Mow menjadi gemuk atau siklus haid tidak teratur, karena hal itu jarang terjadi.

“MOW termasuk kontrasepsi jangka panjang yang non hormonal, beda dengan alat kontrasepsi jangka pendek. Efek sampingnya pada saat operasi saja, bisa infeksi karena terkena organ lain yang mengakibatkan perdarahan tetapi itu jarang terjadi atau bisa terjadi apabila pengaruh obat anastesinya hilang, pasien merasa nyeri sedikit pada bagian yang disayat (dioperasi),” katanya.

Pos terkait