Pohon Besar Tumbang Dihajar Angin, Musim Hujan Datang Lebih Awal

angin
ROBOH: Pohon yang tumbang setelah dihantam angin kencang di Jalan Jenderal Sudirman Km 2 Sampit, Kamis (26/8) siang. (BUDDI/RADAR SAMPIT)

SAMPIT – Sebuah pohon besar yang di Jalan Jenderal Sudirman Km 2 Sampit, tumbang akibat diterpa angin kencang, Kamis (26/8). Beruntung tidak ada pengendara yang melintas saat pohon itu roboh, karena cuaca saat itu sedang hujan deras.

Kasatlantas polres Kotim AKP Salahiddin mengatakan, setelah hujan reda, pihaknya langsung terjun bersama Dinas PUPR Kotim untuk membersihkan pohon tumbang tersebut.

Bacaan Lainnya

”Kami langsung mengatur lalu lintas agar tidak terjadi kemacetan akibat pohon tumbang,” kata Salahiddin.

Sementara itu, BMKG memperkirakan musim hujan 2021 akan terjadi lebih awal dari biasanya. Yakni pada sekitaran September akhir hingga Oktober 2021. Selain potensi bencana hidrometeorologis, kondisi cuaca yang tidak menentu juga dikhawatirkan berpengaruh terhadap daya tahan tubuh.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengungkapkan, saat ini sebagian besar wilayah Indonesia tengah mengalami puncak musim kemarau. Daerah-daerah kering utamanya berada di selatan Khatulistiwa.

Namun kondisi berbeda justru banyak dialami daerah di utara Khatulistiwa seperti Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi. Hal ini kata Dwikorita memang kerap menimbulkan kebingungan. “Seperti yang sudah pernah diprediksikan oleh BMKG sebelumnya. Bahwa musim kemarau tahun ini adalah musim kemarau yang basah,” jelas Dwikorita.

Sebagai kawasan benua maritim, cuaca dan dinamika musim di Indonesia sangat dipengaruhi oleh dinamika atmosfir di dua samudera utama. Yakni Samudera Hindia dan Pasifik. Selain itu, banyak anomali cuaca terdaftar sepanjang tahunnya seperti El Nino, La Nina, Madden Julian Oscilliation (MJO) ataupun seruakan dingin.

Dengan tibanya musim hujan yang lebih awal ini, kata Dwikorita, beberapa keuntungan yang bisa didapatkan diantaranya para petani bisa melakukan perluasan masa tanam. Kemudian panen air hujan untuk mengisi kanal-kanal tadah hujan, embung maupun waduk demi kepentingan irigasi.

Bagaimanapun, kondisi musim hujan juga patut diwaspadai karena berpotensi membawa serta bencana hidro-meteorologis seperti hujan lebat, banjir, angin kencang, petir serta tanah longsor. “Selain itu, hujan es juga masih berpotensi terjadi,” jelasnya.

Tidak hanya bencana, perubahan cuaca yang tidak menentu bisa membuat imunitas seseorang melemah sehingga menjadi rentan terkena penyakit. “Terlebih situasi Indonesia saat ini belum lepas sepenuhnya dari pandemi Covid-19. Waspada bencana hidrometeorologi dan jaga kesehatan selalu,” imbuhnya.

Sejumlah wilayah di Indonesia juga diprediksi akan mengalami musim hujan lebih besar dari biasanya. Di antaranya yaitu, sebagian Aceh, Sumatera Utara, Sumatra Barat, Riau bagian selatan, Jawa, Bali-Nusa Tenggara, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur bagian barat hingga selatan, Sulawesi, Maluku Utara bagian barat, Pulau Seram bagian selatan, dan Papua bagian selatan.

BMKG menghimbau pemerintah daerah setempat dan masyarakat untuk mewaspadai, mengantisipasi dan melakukan aksi mitigasi lebih awal guna menghindari dan mengurangi risiko bencana. Puncak musim hujan periode 2021/2022 sendiri diprediksi akan terjadi pada bulan Januari dan Februari 2022.

Dwikorita menjabarkan, dari total 342 Zona Musim (ZOM) di Indonesia, sebanyak 14,6 persen diprediksi akan mengawali Musim Hujan pada September 2021, meliputi Sumatra bagian tengah dan sebagian Kalimantan.

Kemudian 39,1 persen wilayah pada Oktober 2021, meliputi Sumatra bagian selatan, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan Bali. Sementara itu, sebanyak 28,7 persen wilayah lainnya pada November 2021, meliputi sebagian Lampung, Jawa, Bali – Nusa Tenggara, dan Sulawesi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *