Penyelesaian Masjid Al Hidayah memerlukan proses panjang belasan tahun. Kondisi bangunan yang rawan tergenang banjir, memacu semangat pengurus mempercepat pembangunan hingga kini menjadi tempat ibadah yang nyaman untuk jemaah.
HENY, Sampit | radarsampit.com
Pembangunan Masjid Al Hidayah tak lepas dari peran Kiai Haji Muhammad Sabil selaku pendiri Masjid Noor Agung di Jalan Pemuda yang dibangunnya pertama kali tahun 1940.
Sepanjang hidupnya, Sabil telah membangun sembilan masjid dan Masjid Al Hidayah merupakan masjid ke delapan yang dibangun di Jalan Antang Barat III, Kelurahan Sawahan, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur.
Pada 18 September 1979, Masjid Al Hidayah masih berkonstruksi kayu berukuran 8×8 meter yang dibangun di sebelah barat masjid yang sekarang. saat proses pembangunan, Sabil mengajak keponakannya, Pusidin, bertemu dengan Saynudin alias Salma selaku tokoh masyarakat yang mewakafkan tanah Masjid.
”Di tahun 1995, direnovasi rombak total dibangun beton berukuran 13 x13 meter. Masjid dipindah ke arah timur lebih maju mendekati Jalan Antang Barat III agar mudah dijangkau masyarakat. Tanah itu milik Saynudin yang akhirnya tukar status kepemilikan dengan tanah Masjid,” kata Tohari (50), anak Pusidin yang kini menjadi Bendahara Pengurus Masjid Al Hidayah saat ditemui Radar Sampit usai salat tarawih, Sabtu (23/3/2024).
Selama 23 tahun berdiri, bangunan Masjid Al Hidayah masih terus dikembangkan. Namun, proses pembangunan tak kunjung selesai sampai berkali-kali ganti kepengurusan masjid.
Di bawah kepemimpinan Syaiful Ketua Takmir Masjid Al Hidayah pada tahun 2018, masjid direnovasi. Rombak total untuk yang ketiga kalinya berukuran 23×23 meter menghabiskan anggaran Rp2,5 Miliar dengan tipologi Masjid Jami.
”Sebelum direnovasi yang ketiga kali ini, halaman masjid sering tergenang banjir. Kalau hujan deras, banjir bisa masuk sampai ke lantai dalam masjid. Karena itu, di bawah pengurusan Pak Syaiful dilakukan renovasi total, bangunan masjid ditinggikan dari halaman,” kata Sutoko, Sekretaris Pengurus Masjid yang juga dipercaya sebagai Ketua Pembangunan Masjid Al Hidayah.
Sebelum jabatan Ketua Takmir Masjid digantikan Wariyanto tiga tahun lalu, Syaiful yang dikenal aktif mengurus masjid berupaya mengajukkan proposal yang membuahkan hasil. Dari permohonan proposal itu, Masjid Al Hidayah menerima bantuan dari Pemkab Kotim sebesar Rp125 juta dan dari Pemprov Kalteng Rp100 juta.
”Dulu Pak Syaiful tugas sebagai Lurah MB Hilir. Sudah pensiun, balik ke Jawa tiga tahun lalu. Beliau cukup lama menjadi Ketua Takmir selama 12 tahun. Beliau juga punya sahabat bernama Pak Karno, Pengurus Masjid Bairurrahim yang juga ikut membantu dana pembangunan sebesar Rp50 juta,” kata pria berumur 55 tahun ini.
Selain bantuan pemerintah dan donatur, Masjid Al Hidaya juga memiliki uang kas yang dikumpulkan dari kotak amal hasil sedekah jemaah setiap Jumat Rp500-600 ribu dan setiap salat ied Rp 1-2 juta.
”Dari dana yang terkumpul itu akhirnya pembangunan fisik masjid sudah selesei tahun 2022 yang dikerjakan selama 4 tahun. Kapasitasnya dapat memuat 500-700 jemaah. Masjid ini juga sudah memiliki 6 unit AC yang dipasang tahun 2022 secara bertahap,” kata Sutoko.








