SAMPIT, radarsampit.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) bersama sejumlah pihak terkait diminta mempersiapkan dengan matang ancaman kemarau panjang tahun ini. Antisipasi bencana harus dilakukan dengan kesiapan sumber daya manusia dan peralatan untuk menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan maupun kekeringan.
”Dari prediksi BMKG, wilayah yang baru memasuki musim kemarau pada Juni meliputi Jakarta, sebagian kecil Jawa, sebagian besar Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, sebagian besar Riau, sebagian besar Sumatera Barat, sebagian Pulau Kalimantan, dan sebagian besar Sulawesi bagian utara. Jadi, sudah ada prediksi ilmiah yang tentunya jadi bahan kita mempersiapkan sumber daya mencegah karhutla,” kata Wakil Ketua I DPRD Kotim Rudianur, Jumat (28/4).
Rudianur meminta Pemkab Kotim mulai berkoordinasi dengan pemerintah pusat. Terutama terkait bantuan alat pemadam kebakaran tambahan untuk Kotim.
”Salah satu upaya yang harus dilakukan menanyakan apakah ada bantuan damkar. Idealnya, setiap kecamatan tersedia mobil damkar. Terutama bagi daerah yang menjadi titik kebakaran di musim kemarau,” ujar Rudianur.
Menurut Rudianur, pengadaan mobil damkar tersebut dibantu pemerintah pusat, karena selaras dengan kebijakan untuk menyelesaikan persoalan asap akibat kebakaran lahan.
”Pemerintah pusat saya yakin setuju dengan hal ini. Tergantung kepiawaian mengajukan ke pusat. Bantuan bisa dialokasikan melalui hibah di APBN,” katanya.
Dia melanjutkan, bantuan mobil damkar itu nantinya bisa ditempatkan di ibu kota kecamatan. Apabila terjadi kebakaran, maka penanganan bisa lebih cepat dan maksimal. ”Petugas damkar bisa berkantor di posko penanggulangan bencana di setiap kecamatan,” katanya.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut B Pandjaitan sebelumnya telah mengoordinasikan terkait suhu tinggi yang akhir-akhir ini terjadi di beberapa daerah. Hal tersebut karena berakhirnya fenomena La Nina yang terjadi selama tiga tahun berturut-turut dan membawa cuaca lebih basah. Sebagai gantinya, El Nino akan membawa suhu menjadi tinggi sehingga membuat cuaca menjadi lebih kering.
Selain itu, berdasar data, lanjut Luhut, suhu laut pun saat ini juga telah mencapai rekor tertinggi setelah terakhir terjadi pada 2016. Begitu juga gelombang panas yang mendorong rekor suhu tertinggi di Asia akhir-akhir ini.
”Dari pemodelan cuaca yang kami dapatkan, El Nino di prediksi akan terjadi pada Agustus 2023, meski ketidakpastian tingkat keparahan El Nino masih sangat tinggi,” ungkapnya melalui keterangan tertulis di media sosialnya.
Namun, belajar dari pengalaman pada 2015 yang terjadi di Indonesia, dikatakan Luhut, El Nino berpotensi menyebabkan dampak kekeringan yang luas dan juga kebakaran hutan dan lahan di beberapa daerah. Hal itu tentunya berkorelasi terhadap turunnya produksi pertanian dan pertambangan. Termasuk belum lagi dampak luas terhadap inflasi Indonesia dikarenakan besarnya kontribusi inflasi pangan terhadap inflasi keseluruhan.
Luhut menegaskan, pihaknya akan bersiap dalam kondisi yang paling ekstrem sekalipun. Dia telah meminta seluruh kementerian/lembaga terkait serta pemerintah daerah mulai bersiap sejak dini, yakni dengan memperhitungkan segala langkah yang mesti ditempuh agar pengalaman buruk delapan tahun lalu tidak terulang kembali. Setidaknya, sejak saat ini, pihaknya menyiapkan teknologi modifikasi cuaca sebagai senjata menghadapi El Nino.
”Mari kita semua tetap waspada dan saling menjaga di masa-masa sulit seperti ini, sehingga kerugian yang terjadi akibat peralihan cuaca bisa kita reduksi bersama demi kemaslahatan masyarakat Indonesia seluruhnya,” tuturnya.








