Sepenggal Cerita Dibalik Megahnya Ikon Palangka Raya

"Kalau Iingin Makan Soto Lamongan, ya ke Jembatan Kahayan"

jembatan kahayan
KULINER: Kawasan kuliner di bawah Jembatan Kahayan, Kota Palangka Raya. Di lokasi itu dapat ditemui sejumlah penjual Soto Lamongan. (Dodi/Radar Sampit)

Menganggapnya sebagai Ikon Palangka Raya merupakan hal yang lumrah. Seantero nusantara sudah mengetahuinya. Namun siapa sangka hanya segelintir yang tahu bahwa simbol kemajuan teknik sipil itu menjadi titik balik penghidupan dan juga masa depan dari puluhan keluarga yang bersentuhan dengannya.

SLAMET HARMOKO, Palangka Raya | radarsampit.com

Bacaan Lainnya

“Pesan apa bang?” ucap Jaelani salah satu pedagang di tenda yang berjajar rapi di bawah Jembatan Kahayan.

“Soto” Jawabku.

“Minumnya?” Bertanya lagi.

“Teh tawar hangat,” Ujarku melengkapi.

Tak lebih dari dua menit, Soto Lamongan dengan “koya” yang jadi ciri khas masakan Jawa Timur itu tersiap di meja panjang depan mata. Seolah tak sabar ingin segera menyapa lidah dan berakhir di lambung yang sudah meronta di hari Sabtu (04/11/2023) pagi.

Sepuluh menit menyelesaikan hajat mengisi bahan bakar kehidupan, saya menyodorkan uang Rp 20 ribu sambil meminta izin untuk mengobrol sebentar perihal usahanya.

Tak mengiyakan, Ia malah menyodorkan ayahnya, H. Badri dan berucap bahwa usaha itu milik lelaki berbaju batik dengan kopyah di kepala. “Sama bapak (H Badri) saja. Bapak yang lebih tahu tentang usaha ini dan dianggap sebagai tetua di lingkungan pelapak PKL bawah Jembatan Kahayan ini,” katanya.

Setelah perkenalan singkat, kakek 67 tahun itu langsung bercerita. Sambil sedikit mengingat kisah hidupnya 30 tahun lalu, bapak empat anak ini mengungkapkan bahwa pertama kali ke Kalimantan Tengah tidak langsung ke Palangka Raya.

Ia yang kala itu hanya membawa uang pas-pasan berangkat dari Desa Mojo Asem, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan menuju Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya untuk naik kapal menuju Sampit, Kotawaringin Timur. Keluar dari pelabuhan Sampit, ia lalu menuju Palangka Raya.

“Saya sebelumnya jualan mainan di Jakarta, tapi akhirnya memutuskan merantau ke Kalteng. Sempat kerja serabutan. Setelah setahun di Palangka Raya akhirnya saya ajak istri dan empat anak saya ke sini (Kalteng) dan mulailah berjualan soto. Soto Lamongan,” ungkapnya.

Awal berjualan tidak mudah, karena harus belajar meramu resep yang ada sehingga tidak meninggalkan cita rasa salah satu kuliner khas Jatim itu, namun tetap diterima oleh lidah warga Kalteng yang semuanya bukan orang Jawa. “Jualannya dulu keliling kota, dorong gerobak. Kalaupun sesekali mangkal ya untuk melayani pelanggan di sekitar Jalan Tjilik Riwut, terutama kawasan Polda,” tuturnya.

Hingga akhirnya jalan mulai terbuka ketika pembangunan Jembatan Kahayan dipancangkan. Saat itu ia mencoba peruntungan untuk berjualan lebih pagi, dengan harapan banyak pekerja proyek yang kala itu juga banyak yang berasal dari Jawa ingin sarapan soto.

“Saya lupa pastinya bulan berapa. Tidak mangkal di titik jembatan ini, tapi sedikit agak jauh dari proyek. Alhamdulillah cukup menghasilkan,” ceritanya.

Kemudian semua seolah menjadi semakin dimudahkan, ketika jembatan yang pertama kali dibangun tahun 1995 hingga 2001 dengan panjang 640 meter, lebar 9 meter yang terdiri dari 12 bentang dan bentang khusus sepanjang 150 meter di alur pelayaran ini diresmikan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarno Putri pada 13 Januari 2002.

Hingga suatu ketika suami Hj Juwariyah dan sejumlah PKL lainnya diperbolehkan membuka lapak PKL di bawah jembatan itu.

“Selesai diresmikan saya dan sejumlah pedagang makanan lainnya mulai diperbolehkan berjualan di bawah jembatan ini. Saat itu saya mantapkan niat untuk berjualan menetap di bawah jembatan ini. Saya hanya berharap bila rejeki saya di sini maka lancarkanlah, bila bukan di sini tunjukkan jalan lainnya. Dan akhirnya kini banyak yang juga berjualan soto seperti saya,” katanya seolah menegaskan bahwa Jembatan Kahayan merupakan petunjuk untuk mencari soto lamongan di ibukota Kalteng ini.

Pos terkait