Terdampak PMK, Distribusi Sapi ke Pangkalan Bun Terhambat

Upayakan Rekomendasi Sapi dari Daerah Bebas PMK

Distribusi Sapi ke Pangkalan Bun Terhambat
KOSONG: Suasana kandang sapi milik salah satu distributor besar pemasok sapi di Kobar yang kosong, belum lama ini. (ISTIMEWA/RADAR PANGKALAN BUN)

PANGKALAN BUN – Sejumlah distributor sapi di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) mengeluhkan minimya ketersediaan sapi di kandang mereka. Hal itu akibat pemerintah menerapkan kebijakan pembatasan lalulintas ternak ke wilayah luar Jawa Timur setelah penetapan sebagai wilayah tertular Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Seperti diketahui bahwa Jawa Timur merupakan daerah produsen utama dan pemasok sapi terbesar ke sejumlah kabupaten di Kalimantan Tengah termasuk ke Kabupaten Kotawaringin Barat.

Tidak adanya pasokan sapi ke Kabupaten Kotawaringin Barat memicu terjadi kenaikan signifikan terhadap harga sapi sejak beberapa bulan terakhir.

Salah seorang distributor sapi di Kotawaringin Barat, Muslim mengaku sejak lebaran Idulfitri 1443 Hijriah silam hingga saat ini ia tidak lagi menerima pasokan sapi dari produsen di Jawa Timur, terutama dari Pulau Madura.

“Sejak lebaran tidak ada lagi pasokan sapi ke kita, terutama dari Madura yang merupakan pemasok terbesar ke Kobar. Karena di Jawa Timur masih pengetatan lalulintas ternak sapi,” ujarnya.

Ia mengungkapkan akibat kosongnya ketersediaan sapi potong di Kobar memicu harga jual sapi yang sangat tinggi. Saat masih kondisi normal harga sapi berkisar Rp15 juta per ekor, namun saat ini melonjak mencapai Rp20 juta.

Menurutnya untuk menjaga ketersediaan stok ternak sapi, ia sedang mengupayakan untuk mengajukan surat izin (rekomendasi) masuk ternak sapi dari sejumlah daerah yang masih bebas dari penyakit mulut dan kuku.

Peluang untuk mendatangkan pasokan sapi tersebut dari daerah seperti Bali, Nusa Tenggara Barat dan dari Pulau Sulawesi. Terlebih tidak begitu lama lagi umat muslim akan menyambut datangnya lebaran kurban, sehingga membutuhkan stok sapi yang banyak untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Ia berharap agar wabah PMK cepat berakhir dan kebijakan pengetatan lalulintas sapi dapat dicabut, dengan begitu harga sapi dapat normal kembali. (tyo/sla)

Pos terkait