Ternyata Bus Damri yang Kecelakaan di Palangka Raya sempat Bermasalah

Bus Damri
Bus Damri jurusan Lamandau-Palangka Raya, yang mengalami kecelakaan tunggal, Senin (19/5) pagi.(RADAR SAMPIT)

PALANGKA RAYA – Kecelakaan maut menimpa bus Damri jurusan Lamandau-Palangka Raya, Senin (19/5) pagi. Satu penumpang tewas dalam angkutan massal yang membawa 36 orang (termasuk sopir) tersebut. Sebelum kecelakaan, bus nahas itu sempat bermasalah. Namun, karena dinilai tak terlalu berbahaya, hal itu diabaikan.

Insiden maut itu terjadi di Jalan Mahir Mahar Palangka Raya. Selain menyebabkan satu orang meninggal, delapan lainnya luka ringan. Polisi dan instansi terkait masih melakukan penyelidikan terkait kecelakaan tersebut.

Bacaan Lainnya

Kasat Lantas Polresta Palangka Raya AKP Riky Operandi mengatakan, bus yang dikemudikan Mahmudin Nur tersebut meluncur di Jalan Mahir Mahar dari arah Jalan Tjilik Riwut Km 10 menuju arah Terminal WA Gara. Saat melintas di lingkar luar, tepatnya dekat Kantor Direksi PT Agung Karya Beton, sopir mengurangi kecepatan dan mengerem mendadak.

Mahmudin saat itu berusaha menghindari gundukan aspal  gorong-gorong jembatan Sialnya, ketika direm, bus tersebut justru oleng ke arah kiri dan terus meluncur hingga menghantam beton pembatas jembatan, lalu terjun ke sungai kecil di pinggir jalan tersebut.

”Akibat kecelakaan tersebut, bus mengalami kerusakan dan sebagian penumpang  luka-luka. Satu orang atas nama Devina meninggal dunia di RSUD dr Doris Sylvanus Palangka Raya,” Riky.

Informasi yang dihimpun Radar Sampit dari sejumlah penumpang, korban tewas tersebut posisinnya berada di belakang bus. Diduga dia lemas akibat terimpit dan gagal keluar dari bus itu sebelum berhasil dievakuasi.

Lebih lanjut Riky mengungkapkan, pihaknya sempat kesulitan melakukan  pengecekan penumpang. Pasalnya, data penumpang berbeda dengan manifes resmi bus tersebut. Bahkan, korban tewas tak tercatat dalam daftar resmi penumpang.

”Penyidik kesulitan saat mendata korban, karena manifes bus tidak sesuai isi penumpang. Diharapkan ini menjadi perhatian perusahaan otobus yang beroperasi di Kalimantan Tengah,” ujarnya.

Bermasalah

Mahmudin Nur dalam kondisi bugar saat mengemudikan bus nahas yang menewaskan satu penumpang tersebut. Dia menyetir bus itu dari terminal di Sampit. Sebelum kejadian, bus itu sempat berhenti di kawasan Kasongan untuk mengambil paket dan menurunkan penumpang di kilometer 38. Bahkan, sempat menyaksikan kecelakaan di Jalan Tjilik Riwut sebelum meluncur ke Terminal WA Gara Palangka Raya.

Sebelum kejadian, Mahmudin memacu bus itu dengan kecepatan sekitar 60 kilometer. Kepada Radar Sampit dia juga menegaskan tak mengantuk atau dalam pengaruh minuman keras saat mengendalikan bus tersebut.

”Semua berjalan aman. Namun, saat kejadian itu, saya melihat ada gundukan dan mengerem. Anehnya, arah bus malah ke kiri. Padahal kemudi saya banting ke kanan, hingga peristiwa nahas terjadi,” ujarnya.

Mahmudin mengaku tidak mengetahui persis mengapa busnya tak bisa dikendalikan saat kejadian. Namun, sebelum menuju Sampit, selang rem itu diketahui bocor. Akan tetapi, karena kebocorannya kecil, rekannya menyebut hal itu tak akan jadi masalah. ”Katanya aman saja kebocoran itu dan memang remnya masih pakem juga,” tuturnya.

Menurut Mahmudin, saat bus masuk sungai kecil di pinggir sungai, kaca angkutan itu pecah. Hal itulah yang membuat penumpang bisa menyelamatkan diri melewati bagian depan bus.

”Saya pun tidak menyangka kejadian ini. Saya bahkan mengangkat jenazah korban yang meninggal dunia. Saya turut berduka cita,” ujar pria yang sudah dua tahun lebih menjadi sopir bus tersebut.

Warga sekitar, Kosim, mengatakan, kecelakaan sampai merenggut korban jiwa memang kerap terjadi di lokasi itu. ”Jembatan itu harusnya dikasih pagar. Sering kecelakaan karena ada gundukan, terutama sepeda motor,” katanya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *