SAMPIT, RadarSampit.com – Video aksi tidak terpuji seorang pelajar sekolah dasar di Kota Sampit, Kabupaten Timur (Kotim), yang melakukan perundungan terhadap teman sebayanya memperlihatkan perlunya pembinaan serius terhadap anak didik. Orang tua dan guru perlu kerja sama mengawasi anak didik agar peristiwa itu tak lagi terulang.
”Perlu pembinaan yang sangat serius, terutama pembinaan terhadap akhlak anak-anak,” kata Kepala SD Negeri 2 Sawahan, Jadi, Sabtu (11/6).
Jadi mengaku syok dan kecewa atas perilaku murid dalam video tersebut. ”Ada beberapa hal yang membuat saya kecewa. Anak kok sampai seperti itu. Perempuan lagi,” ujarnya.
Video tersebut direkam pada Jumat (10/6) pagi, sebelum jam pelajaran dimulai. Saat kejadian, belum banyak guru yang datang. Meskipun ada satpam yang berjaga, namun jauh di gerbang sekolah. Hal itu membuat peristiwa tersebut tidak diketahui para guru. Video itu baru diketahui guru setelah ramai beredar.
”Guru-guru tidak ada yang tahu. Para murid pun tidak ada yang lapor. Karena tidak lapor, kami tahunya sudah seperti ini. Kenapa ada video kayak gini? Kalau seandainya lapor, jelas langsung kami tangani. Kejadian seperti ini belum pernah terjadi. Baru sekarang ini,” ujarnya.
Jadi menuturkan aksi tersebut terjadi karena kesalahpahaman kedua belah pihak yang awalnya saling ejek. Hingga berujung pada aksi seperti terlihat dalam video.
”Ini kesalahpahaman. Anak-anak itu saling mengejek. Saling memberikan pernyataan yang tidak enak dan ditanggapi serius anak itu. Sebenarnya awalnya hanya bercanda,” ujarnya.
Dia meminta maaf atas ketidaknyamanan dari video yang beredar. Hal tersebut merupakan tindakan yang tidak sengaja dilakukan pelajar. Dia berharap tidak hanya guru, tetapi orang tua juga turut andil dalam mengawasi serta melakukan pembinaan terhadap tingkah laku anak-anak.
”Saya mohon maaf apabila tidak mengenakkan di dalam dunia pendidikan. Ini bukan sengaja dilakukan anak-anak dan mungkin ini perlu adanya pengawasan tidak hanya guru saja. Harapan saya benar-benar kita kerja sama antara orang tua dan guru untuk mengawasi anak-anak kita,” harapnya.
Dia ingin agar kejadian itu menjadi pelajaran dan introspeksi agar ke depannya lebih ketat lagi melakukan pengawasan terhadap anak-anak.
Setelah beredarnya video itu, pihak sekolah telah memanggil kedua pelajar yang terlibat, serta para pelajar yang berada dalam video sebagai saksi. Orang tua kedua belah pihak juga diminta datang, termasuk perwakilan dari Dinas Pendidikan Kotim.
”Yang dikumpulkan untuk mediasi sekitar 15 orang, termasuk saksi dan murid yang terlibat. Hadir juga dari Dinas Pendidikan dan orang tua yang bersangkutan,” katanya.
Hasil dari pertemuan tersebut, kedua belah pihak sepakat menyelesaikan permasalahan secara kekeluargaan. Kejadian tersebut dipastikan berakhir damai.
”Bahwa sekolah sudah melaksanakan mediasi, baik dari orang tua, kedua siswa, dan siswa yang bersangkutan, sehingga ada kesimpulan bahwa permasalahan ini sudah selesai, tidak ada masalah dan sudah damai secara kekeluargaan,” ungkapnya.
Apabila ada pihak yang merasa dirugikan, pihak lainnya bersedia untuk menanggungnya. ”Kedua orang tua sudah duduk bersama dan siap damai. Namun, apabila ada yang dirugikan dan ada hal-hal perlu biaya, tetap siap menanggung,” tegasnya.
Lebih lanjut Jadi mengatakan, pihak sekolah selalu memberikan bimbingan untuk muridnya. Selama ini, pihaknya telah berupaya menanamkan masalah ramah anak di sekolah. Namun, kejadian tersebut telah sedikit mencoreng image sekolah.
”Adanya kejadian ini, ramah anak belum bisa diterapkan. Mungkin karena selama tiga tahun libur, setelah itu baru masuk beberapa bulan. Mungkin kurang pengawasan. Padahal, saya sudah wanti-wanti, anak-anak jangan sampai berkelahi. Jangan bercanda berlebihan sudah saya dengung-dengungkan,” urainya.








