SAMPIT, radarsampit.com – Dermaga yang menghubungkan Sampit – Seranau tak sepenuhnya dapat diperbaiki. Belum selesainya status hibah lahan dari PT Inhutani ke Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) membuat anggaran dikembalikan.
Plt Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kotim Rody Kamislam mengatakan, pada 2023, Pemkab Kotim mengganggarkan dana perbaikan dermaga Sampit-Seranau sebesar Rp300 juta. Dibagi dua paket, Rp150 juta di Dermaga Sampit (Inhutani), dan Rp150 juta untuk perbaikan Dermaga Seranau.
”Dikarenakan status alas hak tanah di Dermaga Sampit belum clear dan belum dihibahkan PT Inhutani ke Pemkab Kotim, maka perbaikan tidak bisa dilakukan sebelum aset tercatat di inventaris Dishub Kotim. Kalau tetap dikerjakan, maka tercatat sebagai pelanggaran, sehingga terpaksa anggaran dikembalikan,” jelas Rody, Senin (15/7/2024).
Adapun perbaikan Dermaga Seranau tetap dikerjakan pada Juli-Oktober 2023 lalu dan sudah selesai diperbaiki.
”Perbaikan Dermaga Seranau itu aset Pemkab tidak ada kendala, sudah selesai dikerjakan, yaitu perbaikan lantai dermaga yang sekarang sudah ada akses naik turun kendaraan dan dermaga dilebarkan yang bisa untuk akses mobil,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Rody beserta sejumlah pejabat jajaran Dishub melakukan koordinasi dengan CV Graha Teknik, CV Putra Mentaya, dan PT Inhutani terkait upaya perbaikan Dermaga Sampit.
Hal itu dilakukan sebagai tindak lanjut Dishub atas laporan pemasangan police line akibat kerusakan lantai papan kayu Dermaga Sampit.
”Ada laporan kerusakan lantai dermaga. Kami khawatir jangan sampai ada insiden yang tidak diinginkan, makanya saya mengumpulkan semua pihak pengelola terkait dan melakukan peninjauan untuk mengecek apakah kondisi lantai dermaga sudah cukup aman bagi masyarakat atau masih perlu perbaikan lanjutan,” katanya.
Setelah dilakukan pengecekan, masih ditemukan lantai dermaga yang bolong dan perlu segera ditutup. Selain itu, perlu dipasang pagar tepi pembatas sebagai bentuk keamanan pengendara yang menggunakan akses kapal feri penyebarangan serta pemasangan lampu PJU.
”Lantai dermaga sudah diperbaiki Mei lalu oleh operator pengelola dermaga. Setelah kami cek lagi, perlu ada perbaikan lagi agar Dermaga Sampit lebih aman digunakan masyarakat,” katanya.
Dari koordinasi tersebut, pihak CV Graha Teknik, CV Putra Mentaya, dan PT Inhutani menyatakan kesiapannya untuk bekerja sama melakukan perbaikan.
”Dua operator kapal feri penyeberangan dan dari PT Inhutani siap membantu. Bahan baku kayu dipersiapkan. Mudah-mudahan secepatnya perbaikan lantai dan pemasangan pagar tepi lekas terpasang. Untuk penerangan saat malam hari, sudah ada satu tiang PJU, tinggal diganti saja bohlamnya,” katanya.
Pantauan Radar Sampit, permintaan masyarakat terhadap kebutuhan kapal feri penyeberangan sangat tinggi. Mengingat Kecamatan Seranau sangat berdekatan dengan Kota Sampit dan hanya dibatasi Sungai Mentaya.
Setiap hari kapal feri penyeberangan yang beroperasi dan dikelola oleh pihak ketiga bisa puluhan kali bolak-balik melayani masyarakat. Untuk saat ini, ada dua kapal feri yang tersedia milik CV Graha Teknik dan milik CV Putra Mentaya.
Dalam sekali angkut, kapal dapat mengangkut 30-40 unit kendaraan motor. Tarif yang dikenakan sebesar Rp5.000 dengan layanan mulai dari jam 06.00 WIB–18.00 WIB.
Apabila lewat pukul 17.00 WIB, motoris kapal feri penyeberangan menaikkan tarif dua kali lipat menjadi Rp10.000 per unit. Hal itu dikeluhkan masyarakat yang setiap hari pulang pergi ke Sampit-Seranau mengandalkan feri.
”Memang ada wacana untuk menjadikan Dermaga Habaring Hurung sebagai akses menuju Dermaga Seranau. Ini masih dikaji dan diperhitungkan dampaknya. Tidak hanya sekadar mengoperasionalkan, tetapi syarat teknis juga perlu dikaji,” kata Rodi. (hgn/ign)








