RadarSampit.com – Mengembangkan bisnis koran dulu dan sekarang tentu sudah jauh berbeda. Sampai beberapa tahun setelah berdiri 17 tahun silam, Radar Sampit tampil perkasa sebagai media massa berwujud lembaran, menyajikan informasi seputar peristiwa dan pembangunan di wilayah Kalimantan Tengah, terutama Kotawaringin.
Kisah-kisah suksesi itu mulai dari koran yang sering ludes ibarat kacang goreng, sampai pemasang iklan yang terus berdatangan setiap hari ke markas Radar Sampit untuk mengiklankan produknya.
Peradaban yang kian maju dan perkembangan teknologi yang semakin pesat, membuat bisnis media massa berbentuk koran kian berat. Meski demikian, semangat pantang menyerah dan berdamai dengan peradaban, membuat koran tetap bisa bertahan. Beberapa kali ramalan kiamat koran selalu bisa dipatahkan.
Radar Sampit hadir untuk menjawab tuntutan zaman. Tak lagi berbasis koran, tapi merambah linimasa yang sejatinya telah dirintis lebih dari satu dekade silam. Tugas luhur jurnalistik tetap dikedepankan di tengah ketatnya persaingan media yang menuntut kecepatan.
”Platform zaman sekarang berbasis click bait, yang bisa saja dapat menurunkan kualitas jurnalisme. Itulah problem yang paling krusial bagi perusahaan media yang menjual produk jurnalistik. Di era sekarang kita begitu bergantung dengan berbagai platform. Maka, seolah semua menjadi latah mengejar click bait tanpa memperdulikan lagi kualitas jurnalistik,” kata Ajid Kurniawan, Pemimpin Redaksi Radar Sampit 2006-2014.
Banyaknya platform media, lanjut jurnalis senior yang kini menjabat Direktur Balikpapan Post (Jawa pos grup) ini, bisa memberikan kemudahan dalam memperoleh informasi awal. Akan tetapi, juga menjadi tantangan ke depan bagaimana agar jurnalis terus meningkatkan kualitas jurnalistik dengan cara memahami akar jurnalistik.
”Caranya itu kembali ke akar jurnalistik. Jurnalis harus disiplin verifikasi dan kroscek mendalam. Kalau dari sisi bisnis, tentu perlu dicarikan model yang bisa pas dan harus bisa mengolaborasikan model bisnis konvensional dengan model bisnis yang berbasis digital. Semua itu harus berjalan berdampingan. Koran cetak masih jalan, tidak bisa hanya mengandalkan menjual koran di lapangan, tapi juga diimbangi dengan penyesuaian era digital. Dari sisi pembayarannya juga berbasis digital. Model bisnis sudah berubah dan perusahan media harus mengikuti arah itu,” katanya.
Jurnalis sebagai ujung tombak suksesnya perusahaan media, tambahnya, harus dapat terus meningkatkan kemampuannya. Apalagi semua institusi ataupun semua orang sudah bisa menjadi produsen informasi sekaligus konsumen.
”Semua jurnalis harus terus upgrade kemampuannya. Tantangan jurnalistik di era sekarang sudah sangat besar. Jangan sampai ketika kita mendeklarasikan profesi sebagai jurnalis, tetapi kemampuannya justru kalah, bahkan tidak layak menyandang profesi kewartawanan oleh mereka yang bukan berprofesi wartawan,” tegasnya.
”Saya kira ini menjadi tantangan besar bagi media, khususnya jurnalis. Semua orang bisa jadi produsen informasi. Karena itu, penting dan harus jurnalis meningkatkan kemampuan membuat karya jurnalistik yang berkualitas dan saya kira ada banyak workshop yang bisa diikuti untuk meningkatkan mutu sebagai jurnalis selain mengikuti uji kompetensi wartawan (UKW),” tambahnya.
Muhammad Arsyad, Pemimpin Perusahaan Radar Sampit 2006-2014, mengatakan, Radar Sampit memiliki kemampuan untuk menghadapi tantangan zaman. Ada keunggulan yang Radar Sampit yang tidak semua dimiliki media massa saat ini.
”Berita mendalam di koran ini (Radar Sampit) harus ditonjolkan, karena di sisi itu yang harusnya diperkuat. Dulu Radar Sampit unggul news indept (berita mendalam, Red) yang membedah kasus. Dibikin bersambung dan tuntas mengangkatnya. Keunggulan ini jangan sampai hilang,” ujarnya.








