Modus peredaran narkoba semakin hari seolah tak kehabisan akal. Terbaru bandar pengedar punya modus lain seolah S3 Marketing.
===== | radarsampit.com
Kini beredar campuran narkoba yang dikirim dan dikemas dalam bentuk keripik pisang dan beredar di dekat Bogor.
Bareskrim Polri mengungkapkan kasus penyalahgunaan campuran narkoba yang terkandung dalam minuman happy water dan keripik pisang yang diproduksi bandar pengedar bergaya S3 Marketing di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kandungan narkotika di 2 produk itu menurut Polisi bukanlah narkoba jenis baru. Jadi, dalam keripik pisang itu ada kandungan amphetamine dan sabu juga.
Beberapa bahan itu dicampur, dikolaborasikan dengan keripik pisang dan happy water agar tersamar. Bandar pengedar seolah lebih dari S3 Marketing ya.
Polisi berhasil mengungkap dan melakukan penangkapan saat pengiriman barang ke Cimanggis Depok, Jawa Barat.
Daerah dekat Bogor itu menjadi salah satu wilayah pemasaran keripik pisang dan water happy campuran narkoba itu.
Para bandar narkoba, memang semakin lihai menyelundupkan dan mengedarkan barang terlarang ini.
Namun, alih-alih sebagai strategi pemasaran, ide penjualan tidak biasa yang terlalu S3 Marketing ini akhirnya gagal juga. Modus bandar pengedar narkoba memang selalu berganti-ganti.
Cara ini dilakukan untuk mengelabui pihak interdiksi, baik dari kepolisian maupun BNN, pihak bea cukai atau keamanan di bandara dan juga pelabuhan. Gaya-gayaan S3 Marketing.
Berikut adalah beberapa modus penyelundupan dan peredaran narkoba ala-ala S3 Marketing yang pernah ditemui.
1. Ekstasi dalam buku cerita
Penyelundupan narkoba melalui metode ini telah terjadi beberapa kali. Salah satunya terjadi di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, pada Juli 2017.
Pihak Bea Cukai dan Polresta Bandara curiga terhadap paket buku cerita anak yang dikirimkan melalui jasa pengiriman. Setelah pemeriksaan, mereka menemukan 160 gram shabu yang disembunyikan di balik sampul buku. Modus serupa juga terjadi pada Agustus 2017 di Bandara Soekarno-Hatta, yaitu dengan cara menyelipkan kartu ucapan selamat ulang tahun.
Bea Cukai menemukan empat paket ganja berbentuk pasta seberat 7,3 gram yang dikirim dengan kartu ucapan tersebut, serta sepuluh tabung berisi ganja cairan untuk orang yang sama dengan paket sebelumnya.
2. Penyelundupan shabu dalam pembalut
Penyelundupan narkoba dengan cara ini telah terjadi beberapa kali. Salah satunya terjadi pada bulan Februari tahun ini di Bandara Internasional Ahmad Yani, Semarang.
Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai mengungkapkan bahwa mereka sebelumnya telah memiliki informasi tentang modus penyelundupan ini.
Kecurigaan tersebut semakin diperkuat ketika tersangka yang sebelumnya tidak merencanakan perjalanan tersebut tiba-tiba memesan tiket penerbangan.
Saat tersangka tiba di bandara, pihak berwenang melakukan pemeriksaan yang sangat rinci. Meskipun hasil pemindaian pada koper tidak menunjukkan adanya barang terlarang, ternyata narkoba tersebut disembunyikan di dalam pembalut.
Kasus serupa dengan metode yang sama juga tercatat pada bulan April sebelumnya di Bandara Soekarno-Hatta.
Sebanyak 2,7 kilogram shabu berhasil ditemukan pada dua penumpang wanita asal Malaysia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.346 gram tersembunyi dalam dua pembalut yang mereka bawa, sedangkan sisanya disembunyikan di dalam bra yang mereka kenakan.
3. Narkoba disamarkan sebagai cairan vape
Pada bulan Agustus 2017, berkat informasi dari masyarakat, kepolisian berhasil menangkap seorang pengedar liquid high, yang merujuk pada narkoba yang disamar-samarkan sebagai cairan untuk vape, di daerah Jakarta Selatan. Setelah menangkap pengedar tersebut melalui metode pembelian rahasia, mereka menemukan bahwa cairan vape tersebut mengandung narkoba jenis 5-Fluoro ADB, yaitu suatu jenis cannabinoid sintetis yang telah terkait dengan beberapa kasus kematian di Jepang pada tahun 2014.








