Belasan Tahun Taklukkan Laut, Rindu Keluarga Jadi Tantangan Paling Berat

Kacab Pelni Pangkalan Bun
TEMPAT PULANG: Antonius Lumban Gaol saat bersama istri dan anaknya. (RINDUWAN/RADAR SAMPIT)

Mengenal Antonius Lumban Gaol, Kacab Pelni Pangkalan Bun 

Asam garam lautan sudah dirasakan Antonius Lumban Gaol selama belasan tahun berlayar. Menjadi pelaut merupakan mimpinya sejak kecil hingga dia dipercaya menjadi Kepala Cabang PT Pelni Pangkalan Bun sejak 1 Februari 2021 lalu.

Bacaan Lainnya

RINDUWAN, Pangkalan Bun 

Rapi dan supel. Itulah kesan pertama saat jumpa dengan Antonius Lumban Gaol. Aktivitasnya belakangan disibukkan dengan kapal yang sandar di Pelabuhan Panglima Utar.

Kepada Radar Sampit, Antonius mengaku sudah tertarik pada laut. Dia bercita-cita menjadi TNI angkatan laut. Untuk mengejar impiannya, Antonius bersemangat menempuh pendidikan di sekolah.

Saat lulus SMA, Antonius menuturkan, jalan hidupnya tak sesuai impian untuk menjadi anggota TNI AL. Namun, dia mencari jalur lain yang berhubungan dengan laut dan masuk sekolah pelayaran pada tahun 1991 di Medan Sumatera Utara.

”Memang tidak bisa masuk TNI Angkatan Laut. Tapi, dengan masuk sekolah pelayaran nantinya, saya bakal jadi pelaut,” kata pria yang selalu tampil dengan rambut tertata rapi ini.

Setelah bergabung di sekolah pelayaran dan memperoleh gelar ANT III, Antonius melanjutkan pendidikannya untuk tingkat ijazah ANT II. Hingga akhirnya pada 2013, dia mendapatkan ijzah ANT I dan Master Marine.

”Namun, sebelum itu sebenarnya menjadi taruna atau istilahnya magang selama satu tahun. Berarti itu pertama kali melaut tahun 1999,” kata pria Asal Tapanuli Utara ini.

Sejak saat itu, dia sangat senang karena cita-citanya menjadi seorang pelaut bisa terwujud. Pertama kali dia melaut menggunakan kapal perintis di Laut Banda yang ombaknya tinggi.

Meski pengalaman pertama disuguhi gelombang tinggi, Antonius mengaku tak gentar sedikit pun. ”Mental pelaut itu sudah terbentuk. Cara menaklukkan gelombang selama belajar di pelayaran itu kami terapkan saat berlayar,” ujarnya.

Salah satu pengalaman paling mengesankan, menurut Antonius, saat dia berlayar dari Jakarta ke Bitung. Saat itu dia membawa kapal barang. ”Kami bersama kru lainnya melewati Laut Sulawesi yang gelombangnya sangat tinggi. Sampai kapal harus memutar haluan supaya bisa sampai tujuan dengan selamat,” tuturnya.

Pelayaran yang tak kalah mengesankan, saat pelayaran dari Jakarta menuju Filipina. Saat melintas di Laut Cina Selatan, dia bersama krunya dihantam gelombang tinggi  selama tiga hari. Meski demikian, Antonius dan rekan sepelayarannya tak mundur dan terus melanjutkan perjalanan.

”Kami terombang-ambing di tengah laut dengan cuaca yang tidak bersahabat. Kami tidak menyerah. Pengalaman itu masih ingat sampai sekarang, karena banyak hal yang kami lewati selama tiga hari itu,” katanya.

Seiring berjalannya waktu, Antonius tidak lagi membawa kapal barang. Dia membawa kapal penumpang milik PT Pelni, yakni KM Dorolanda. Kapal yang lumayan besar milik PT Pelni. Dia juga pernah membawa KM Binaiya dan pernah berlayar sampai Pelabuhan Panglima Utar Kumai pada tahun 2003.

Menurut Antonius, tantangan berat bekerja sebagai pelaut bukan soal takut gelombang tinggi. Namun, rindu kembali ke kampung halaman dan kumpul bersama keluarga.

Pada 2012, Antonius lalu ditawari tak lagi membawa kapal dan fokus kerja di kantor. Setelah mendiskusikan tawaran itu dengan keluarga, dia menerimanya.

”Akhirnya saya setujui untuk berhenti kerja di kapal dan mulai kerja di Kantor PT Pelni. Semuanya saya mulai dari bawah lagi. Melaut selama 12 tahun sudah cukup dan fokus berkarier di kantor,” ujarnya.

Karier Antonius di darat diawali dengan menjadi senior staf di PT Pelni di Jakarta. Kariernya terus menanjak hingga dia dipercaya menjadi kepala cabang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *