SAMPIT, radarsampit.com – Dalam upaya menekan potensi anak stunting akibat kekurangan gizi kronis, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) melakukan Gerebek Stunting. Kegiatan membagikan telur dan susu kepada anak balita stunting secara serentak di 17 kecamatan itu dilepas Bupati Kotim Halikinnor, Rabu (13/12/2023).
Halikinnor mengatakan, sejak 2019 sampai sekarang, Kotim telah ditetapkan pemerintah pusat sebagai salah satu kabupaten lokus penanganan stunting. Sejak saat itu pula penanganan stunting menjadi salah satu prioritas daerah di Kotim.
”Salah satu dari upaya pencegahan dan penurunan stunting yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Kotim adalah melalui gerakan berantas stunting, yaitu gerakan berkunjung ke lokasi anak yang stunting dengan memberikan secara langsung susu dan telur, serta mengawal pelaksanaan pemberian ini setiap hari selama minimal tiga bulan ke depan dan diberikan kepada anak balita stunting sesuai kategori umurnya,” kata Halikinnor.
Tersedia 95.000 kotak susu UHT dan 195.000 butir telur yang akan dibagikan untuk kebutuhan selama 3 bulan kepada 2.163 balita stunting yang tersebar di 17 kecamatan dan 21 puskesmas se-Kotim. Seluruh kepala perangkat daerah bergerak ke masing-masing kecamatan sesuai instruksi bupati didampingi camat dan kepala puskesmas di masing-masing wilayah. “Untuk melaksanakan pembagian susu dan telur ke rumah tangga sasaran serentak pada hari ini (kemarin),” kata Halikinnor.
Kegiatan berupa kunjungan Bupati Kotim Halikinnor didampingi Sekda Kotim Fajrurrahman, Kepala Dinas Kesehatan Kotim Umar, Kepala Bappelitbangda Kotim Rafiq Riswandi, Kepala DPPPAPPKB Kotim Imam Subekti, Kepala Bapenda Kotim Ramadansyah beserta jajaran lainnya ke rumah tangga sasaran stunting dengan membagikan susu dan telur yang banyaknya disesuaikan dengan umur balita. Mulai dari Jalan HM Arsyad, Desa Telaga Baru, Desa Pelangsian, dan Desa Eka Bahurui.
Kegiatan serupa dilaksanakan oleh perangkat daerah yang tersebar di 17 kecamatan, berupa kunjungan SOPD, camat, dan pihak puskesmas ke rumah tangga sasaran stunting yang sudah ditentukan dengan membagikan susu dan telur yang banyaknya disesuaikan dengan umur balita.
”Upaya penurunan angka stunting di Kotim masih harus ditingkatkan agar target penurunan stunting yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat sebesar 14 persen pada tahun 2024 dapat tercapai,” harapnya.
Berdasarkan data dari survei status gizi Indonesia (Ssgi) dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, angka prevalensi stunting di Kotim pada tahun 2022 sebesar 27,9 persen, menurun 4,6 persen dari tahun 2021 yang sebesar 32,5 persen. Sedangkan mengacu kepada data elektronik pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (E-PPGBM) dari Dinas Kesehatan Kotim, data prevalensi stunting tahun 2022 sebesar 22,6 persen.
Kepala Dinas Kesehatan Kotim Umar Kaderi menambahkan, gerakan berantas stunting se-Kotim untuk distribusi telur dan susu ke masing-masing Puskesmas dilaksanakan mulai 1 Desember 2023.
”Distribusi telur dan susu untuk 21 puskesmas di 17 kecamatan disalurkan secara bertahap oleh Dinas Kesehatan ke masing-masing puskesmas di wilayah tersebut, sedangkan distribusi ke anak stunting akan didistribusikan dan dikawal oleh petugas puskesmas dan kecamatan di masing-masing wilayah,” terangnya.
Umar menuturkan, gerakan berantas stunting adalah gerakan berkunjung ke keluarga yang stunting. Gerakan berantas stunting tersebut sebagai salah satu upaya menekan potensi anak stunting akibat kekurangan gizi kronis.








