Cerita Mistik Mihing Penangkap Ikan dari Kalteng

Cerita Mistik Mihing Penangkap Ikan dari Kalteng
Sejumlah Siswa saat mendengarkan sejarah singkat terkait Mihing penangkap ikan yang dianggap mengandung magic (Mistik) di Museum Balanga, pada kegiatan belajar bersama.(agusfataroni/radarsampit)

PALANGKA RAYA – Mihing merupakan salah satu benda budaya tradisional masyarakat Kabupaten Gunung Mas yang hampir punah. Menurut Kitab Panaturan Suku Dayak Ngaju (Kitab Suci Hindu Kaharigan), Kata Mihing dari Bahasa Sangiang atau Bahasa Sangen. Mihing berarti semacam alat menangkap ikan yang mengandung daya mistik untuk menarik perhatian ikan-ikan, sehingga datang dan masuk kedalamnya.

Mihing juga merupakan pembawa rejeki, baik di dunia fana dan alam baka. Ada juga yang mengenal Mihing dengan sebutan Mihing Manasa, yang mana kata Manasa berarti; Memasuki. Dengan demikan dapat disimpulkan,  Mihing Manasa berarti ; Sebuah alat perangkap utuk masuknya ikan atau sering dikatakan, merupakan benda yang berisi penuh ( panen ) dengan ikan.

“Adapun asal mula adanya Mihing dalam kehidupan Suku Dayak Ngaju di sungai Kahayan, sangat erat dengan legenda Cerita Rangan Mihing yang merujuk kepada seorang Kesatria Dayak yang bernama Bowak dari Desa Tumbag Danau, wilayah Kecamatan Mihing Raya, setelah pemekaran dari wilayah kecamatan Sepang, Kabupaten Gunung Mas. Konon, Bowak sejak kecil hidup dengan salah satu keluarga kaya. Pekerjaanya sehari-hari memelihara babi dari keluarga tersebut. Ia pekerja yang rajin dan tekun, namun pada suatu waktu merasa lelah dan jenuh pada pekerjaanya,” papar Budi Waluyo salah seorang pemandu museum Balanga.

Kemudian lanjutnya, dalam kejenuhanya sambil mengiris batang keladi untuk makanan babinya, ia bersenadung dalam bahasa Sangiang atau sering disebut Mangarungut atau Mandak. Ucapan yang dikeluarkan Bowak waktu itu; “Narai kajarian kea gawi kalutuh, nasang tingang dia bahelat andau, maraga kalawet isen sankelang pandang kalaman”.Artinya; kapan berakhir pekerjan ini, setiap hari memotong daging burung tingang, dan mencincang daging monyet (owa-owa). Padahal sebenarnya yang dipotong dan dicincang  oleh Bowak hanya batang dan daun keladi untuk makanan babi tuannya.

“Perkatannya inilah  yang terdengar oleh Sangiang (Dewa Langit) di lewu Telo Kalabuan Tingang Rundung Epat Kalehulun Talawang. Sehingga kedengaranya begitu gagah dan berani. Membuat Raja Sangiang tertarik untuk mengutus pesuruhnya Sahawung untuk menjemput Bowak ke lewu Telo( Negeri Para Sangiang/Kayangan) untuk menguji kegagahannya,” sambung Budi.

Singkat cerita, Bowak pun dibawa ke Lewu Telo dan diperlakukan seperti Raja dan diminta untuk tinggal beberapa lama di sana. Sehingga sampailah saat pengujian kegagahan Bowak. Pada suatu hari dia dijak oleh warga Lewu Telo (dunia Sangiang/kayangan) untuk berburu burung Tingang mengunakan Sipet/Sumpitan, yang ternyata hanya burung Endu/Punai saja menurut kita bangsa manusia. Tetapi menurut bangsa Sangiang adalah Tingang. Dan dengan mudah Bowak menangkap begitu banyak burung tersebut  karena dia sudah terbiasa berburunya di tempat asalnya di dunia manusia ( Pantai Danum Kalunen).

“Dengan beberapa tantangan dan cobaan yang diberikan kepada Bowak, semua dapat dilewati dan dilalui dengan mudah, karena merupakan pekerjaan sehari-harinya di bumi,” tukas Budi.

Apa yang dilakukan Bowak di lewu Telo membuatnya begitu terkenal dan disegani sehingga pada saat ada rencana pembuatan Mihing di Lewu Telo dia tidak dilibatkan karena takut Bowak akan mencuri ilmunya dan nantinya akan dibawa lagi ke Lewu Pantai Kalunen/ Dunia untuk di praktikan.

Akhirnya, agar Bowak tidak melihat cara dan bahan pembuat Mihing tersebut,  Sahawung menempatkan Bowak di sebuah tempat yang disebut Sambah gandang Garantung Manah (balai tempat Penyimpanan Musik Gandang Garantung). Disitulah Bowak selama satu hari di tempatkan agar tidak bisa melihat pekerjaan Sahawung dan penghuni Lewu Telo. Tetapi dia masih bisa melihat pekerjaan mereka, kemudian dipindahkan lagi ke Balai Jala Bulau Nihing Langit, atau Balai Jala Bulau Andung Nyahu dan dia berada di situ bersama Raja Singuh Batu, Tuhan Jenjan Liang (Balai milik Patahu). Tetapi Bowak tetap saja bisa melihat pekerjan Sahawung dan Penduduk Lewu Telo. Dan begitu terkejutnya Bowak ketika melihat begitu banyak harta kekayaan seperti balangga, gong, emas, intan dan sebagainya masuk kedalam Mihing tersebut, padalah masih belum jadi dibuat. Maka mengertilah dia guna dari Mihing tersebut dan mengapa orang di Lewu Telo melarang dia melihat  pembuatannya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *