Banjarbaru, 6 November 2025 – Listrik adalah cahaya pertama yang menyalakan harapan. Ia bukan sekadar arus yang merambat di kabel-kabel, melainkan pintu menuju segala kemungkinan. Ada banyak cerita di balik terang itu, termasuk cerita yang mungkin luput dari pandangan kita, bagaimana PLN UID Kalselteng menembus hutan lebat, melintasi sungai yang tak selalu jinak, hingga menjangkau desa-desa yang namanya bahkan tak tercatat di peta.
Dalam momentum delapan dekade Hari Listrik Nasional, semangat menghadirkan terang hingga pelosok negeri terus menyala, seiring optimisme PLN menuntaskan elektrifikasi desa pada 2027.
Iwan Soelistijono, General Manager PLN Unit Induk Distribusi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (UID Kalselteng), paham benar dengan kondisi geografis di kedua provinsi tersebut.
“Ada desa yang hanya bisa dicapai lewat jalur sungai, ada pula yang terhimpit hutan lebat sehingga menyulitkan suplai material. Tak jarang, izin dan proses administrasi membuat langkah tertunda,” kata Iwan.
Menghadapi tantangan geografis dan birokrasi, Iwan menganggap semua itu sebagai ekspedisi menuju tujuan mulia yakni menerangi pelosok negeri. Baginya, membangun listrik di Kalimantan bukan semata perkara teknis. Birokrasi lintas instansi wajib dilalui, apalagi ketika jaringan harus melintasi hutan lindung atau lahan industri.
“Setiap wilayah punya cerita, dan setiap cerita harus kita jawab dengan solusi. Oleh karena itu, sinergi dengan pemerintah daerah wajib kita jalani,” tambahnya.
Hasilnya, angka elektrifikasi terus bergerak naik. Di Kalimantan Selatan, rasio desa berlistrik sudah mencapai 99,36 persen, sementara di Kalimantan Tengah mencapai 83,39 persen.








