SAMPIT, radarsampit.com – Masyarakat Kota Sampit menuding sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) bermain mata dengan pelangsir BBM bersubsidi. Akibatnya, masyarakat umum kesulitan mendapatkan Pertalite karena stok cepat habis hanya dalam hitungan jam.
”Saya hampir setiap hari kesulitan mendapatkan BBM jenis Pertalite. Kalaupun ada, antreannya luar biasa,” keluh Dewi, warga Baamang, Rabu (22/10/2025).
Menurut Dewi, di beberapa SPBU dalam Kota Sampit terlihat antrean panjang kendaraan bermotor dengan tangki berkapasitas besar yang mencurigakan.
Para pelangsir itu disebut bisa mengisi BBM hingga 5-6 kali di SPBU yang sama dalam satu hari.
”Salah satunya SPBU di Jalan Tjilik Riwut. Sekitar 80 persen yang isi pelangsir. Ciri-cirinya jelas. Motor besar, tidak pakai helm, sekali isi di atas Rp100 ribu. Kalau kami warga biasa, maksimal hanya boleh Rp50 ribu,” ungkapnya.
Warga lain menambahkan, di sekitar SPBU kerap ditemukan lokasi penampungan BBM bersubsidi.
Modusnya, pelangsir mengeluarkan isi tangki hanya beberapa menit setelah keluar dari SPBU, lalu kembali masuk untuk mengisi lagi.
”Kalau mau menindak sebenarnya mudah. Ikuti saja motor-motor besar yang keluar dari SPBU, pasti tak jauh dari situ ada tempat penampungan. Makanya dalam hitungan menit pelangsir bisa kembali masuk SPBU yang sama,” ujar Ahmad.
Menurutnya, satu pelangsir bisa menyedot ratusan liter BBM dari SPBU setiap hari. ”Penampungnya kadang sehari bisa dapat 5–7 drum,” tambahnya.
Belakangan, beredar pula video viral yang menunjukkan seorang pelangsir roda dua diduga beraksi di salah satu SPBU di Jalan Tjilik Riwut, Sampit.
Dalam video itu, pelangsir tampak akrab dengan petugas SPBU dan mudah melanggar batasan pengisian Rp50 ribu per kendaraan.
Modusnya, pelangsir menekan tuas mesin pengisi sambil petugas mereset alat agar bisa kembali mengisi hingga tangki penuh.
Fenomena ini memicu kemarahan warga dan warganet. Mereka mempertanyakan lemahnya pengawasan serta penerapan aturan pembatasan pembelian BBM bersubsidi di SPBU. (ang)








