Peringati Hari Bakti Dokter Indonesia, IDI Kotim Gelar Seminar dan Galang Donasi untuk Anak Stunting

seminar
SEMINAR:  Puluhan Anggota IDI Kotim menghadiri seminar CME dalam rangka Hari Bakti Dokter Indonesia di Ruang Dynasty Aquarius Boutique Hotel Sampit, Jumat (19/5). (HENY/RADAR SAMPIT)

SAMPIT, radarsampit.com – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menggelar seminar Continuing Medical Education (MCE) sekaligus HalalBihalal di Ruang Dynasty Aquarius Boutique Hotel Sampit, Kamis (19/5).

Seminar dihadiri kurang lebih 70 dokter dari total 160 dokter yang tergabung sebagai anggota IDI Kotim. Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati Hari Bakti Dokter Indonesia (HBDI) yang ke-15 tahun dan bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-115 tahun yang jatuh pada 20 Mei 2023.  IDI Kotim juga  menggalang donasi dikalangan dokter untuk anak stunting.

Bacaan Lainnya

“Sore ini kita mengadakan Halalbihalal untuk mempererat silaturahmi dengan dokter yang tergabung sebagai anggota IDI Kotim. Kegiatan ini rutin diadakan setiap tahun dan tahun ini disisipkan seminar yang tujuannya untuk mengupdate ilmu,” kata dr Anggun Iman Hernawan, Ketua IDI Kotim, Jumat (19/5).

Profesi sebagai dokter tidak hanya bertugas untuk melayani atau menangani pasien sakit. Tetapi, dokter juga memiliki tanggungjawab mengumpulkan Satuan Kredit Profesi (SKP) yang menjadi syarat dalam perpanjangan Surat Tanda Registrasi (STR). STR merupakan dokumen hukum atau tanda bukti tertulis bagi seorang dokter dan dokter spesialis bahwa yang bersangkutan telah mendaftarkan diri dan telah memenuhi syarat yang ditetapkan pada Konsil Kedokteran Indonesia.

“Masa STR dokter dan dokter spesialis berlaku selama 5 tahun, Setiap dokter di Indonesia diharuskan memenuhi 250 poin SKP. 100 poin SKP diantaranya didapat dari kegiatan seminar yang diikuti dan sisanya dari pelayanan pasien dan pengabdian kepada masyarakat,” jelas Iman.

“Untuk seminar kali ini setiap dokter yang hadir mendapatkan 4 poin SKP berupa sertifikat dan khusus pemateri mendapatkan 8 poin SKP,” tambahnya.

Baca Juga :  Simulasi, Dua Hektare Lahan Gambut Dibakar

Sebelum memulai seminar, IDI Kotim menyerahkan tanda jasa untuk dokter pejuang Covid-19 yang gugur alias wafat pada masa pandemic Covid-19 selama tiga tahun lalu. Penghargaan itu diberikan kepada almarhumah dr Naris Roswidiandari Spesialis Mata yang diberikan kepada suaminya, dr Yuendrie Irawanto. Penghargaan kedua diberikan kepada almarhum dr Febri Yudha Herlambang yang diberikan kepada istrinya, dan yang ketiga penghargaan untuk dr Endang Retno Juwita Sp Radiologi yang diterima oleh sahabatnya dr Retno.

“Pada momen Hari Bakti Dokter Indonesia, IDI Kotim juga menggalang donasi untuk anak stunting. Kami membuka donasi selama sepekan kedepan yang dari uang yang terkumpulkan dibelanjakan makanan untuk anak-anak stunting,” ujarnya.

Kegiatan berikutnya, kegiatan inti yaitu seminar CME yang diiisi oleh tiga pemateri. Materi pertama terkait hukum, etika, disiplin dan hukum dokter dalam memberikan pelayanan kesehatan di rumah sakit. Materi ini disampaikan oleh dr Franky Sumarlie Sp Obgyn Sub Sp Obginsos (K).

Franky menekankan bahwa setiap tenaga kesehatan atau medis dituntut memiliki sikap professional dalam bertugas, meletakkan kepentingan pasien di atas kepentingan pribadi, memiliki sikap rasa saling menghormati kepada pasien, keluarga, teman sejawat atau rekan kerja, perawat bidan,  dan apoteker.

“Kita yang berprofesi sebagai dokter dituntut untuk memiliki kemampuan intelektual yang baik, memahami undang-undang yang berlaku, memiliki etika dan berkomitmen penuh melayani masyarakat,” kata dr Franky.

Kendati demikian, dalam kenyataannya tenaga kesehatan khususnya dokter masih dihadapkan pada tantangan dan godaan materialistik yang sangat besar, tidak semua dokter mementingkan pasien.

“Kenyaataan yang seperti ini tidak menutup kemungkinan, seorang dokter bisa saja dilaporkan karena tersandung hukum karena melanggar etika, disiplin dan hukum,” kata dr Franky.

Pos terkait