Picu Kontroversi, Patung Kuda Lumping dan Warok di Desa Mekar Mulya Akhirnya Dirobohkan  

patung warok
KESENIAN: Pemerintah Desa Mekar Mulya, Kecamatan Sematu Jaya, Kabupaten Lamandau, merobohkan patung warok di tugu selamat datang, Kamis (4/7/2024) siang.

Radarsampit.com – Warga Desa Mekar Mulya membangun ikon desa terinspirasi dari kesenian tradisional kuda lumping dan warok.

Namun, ikon yang dibangun dari pendapatan asli desa itu terpaksa harus dirobohkan.

Bacaan Lainnya

Pemerintah Desa Mekar Mulya, Kecamatan Sematu Jaya, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah merobohkan patung warok yang berdiri di tugu selamat datang desa mereka.

Perobohan dilakukan dengan cara ditarik menggunakan tali yang diikatkan pada truk, Kamis (4/7/2024) siang.

Patung yang dibangun dari pendapatan asli desa (PADes) tersebut rencananya akan diganti dengan simbol nasional atau ornamen Dayak.

Kepala Desa Mekar Mulya Herlangga Triatmaja Hadiwijaya mengungkapkan bahwa pembangunan patung tersebut berawal dari hasil musyawarah desa.

Desa tersebut memiliki dua paguyuban kesenian tradisional yakni Paguyuban Krido Laras (kuda lumping) dan Paguyuban Wahyu Manunggal Rahayu (warok).

“Atas kebanggaan kami dengan kesenian tradisional masyarakat tersebut dan paguyuban tersebut juga sudah lumayan terkenal,  kami bermaksud membangun dua patung yang melambangkan dua kesenian tersebut sebagai ikon desa, yakni kuda lumping dan warok,” jelasnya.

Baca Juga :  Pemburu Rusa di Sukamara Diduga Sengaja Bakar Lahan

patung warok

Awal Mula Kontroversi 

Setelah ikon desa berdiri, ada salah seorang yang membuat video, lalu memposting di media sosial dengan narasi provokatif.

Akhirnya muncul kesalahpahaman yang menganggap bahwa patung tersebut adalah simbol suku tertentu yang pernah berkonflik di Kalimantan Tengah.

“Padahal itu adalah warok, kesenian dari Wonosobo, Jawa Tengah. Karena kebetulan sebagian besar warga kita adalah pendatang transmigran asal Jawa Tengah,” tuturnya.

Ia berharap hal ini bisa dipahami dan tidak disalahartikan agar tidak menimbulkan konflik sosial di tengah masyarakat yang majemuk. Untuk itu berdasarkan hasil rapat desa pula, diputuskan patung tersebut dirobohkan bersama-sama.

”Kami minta maaf jika ada yang salah paham. Karena tidak ada maksud sedikitpun dari kami untuk menyinggung, kami di sini juga selalu menjunjung tinggi adat istiadat dan budaya daerah, serta terus melestarikan kesenian tradisional dari nenek moyang yang diwariskan secara turun temurun,” tambahnya. (mex/yit) 



Pos terkait