Pos Penjagaan Kosong, Truk Muatan Berat Bebas Melintas

Jalan Ahmad Shaleh Rusak Lagi

jalan rusak
BEBAS MELINTAS: Salah satu truk bermuatan yang ditutup terpal hijau saat melintas beriringan di ruas Jalan Ahmad Shaleh ruas Pangkalan Bun menuju Kotawaringin Lama, Sabtu (23/10) (SULISTYO/RADAR PANGKALAN BUN)

PANGKALAN BUN – Pos pengawasan di titik masuk Jalan Ahmad Shaleh ruas Pangkalan Bun menuju Kotawaringin Lama (Kolam) hampir sepekan ini kosong tanpa penjaga dan hanya menyisakan tenda serta meubeler saja.

Tidak adanya petugas pengawasan itu dimanfaatkan sopir truk bermuatan berat untuk bebas melintas di ruas jalan yang saat ini sedang dalam perbaikan. Tak jarang mereka melintas dengan sistem konvoi dengan berjalan beriringan.

Akibatnya, timbunan di kawasan kilometer 2 dan 3 yang semula mulus dan nyaman dilalui kini kembali rusak parah. Kontraktor terpaksa kembali melakukan penimbunan ulang di titik jalan yang hancur tersebut.

Untuk diketahui, sebelumnya Gubernur Kalimantan Tengah telah melarang untuk sementara waktu truk yang melebihi tonase melintas di ruas jalan tersebut. Akibat kondisi tersebut, warga kembali mengeluh, dan kekosongan penjagaan di pos dituding menjadi biang armada odol itu kembali melintas.

“Sudah beberapa hari ini pos jaga kosong, jadi armada yang bermuatan berat kembali masuk dan beriringan, ini yang menyebabkan jalan cepat rusak,” kata Tedy, warga Kelurahan Baru di Bundaran Tudung Saji, Kelurahan Baru, Minggu (24/10).

Baca Juga :  Bantu Sesama, Puluhan Karyawan PT GSPP Gelar Aksi Donor Darah

Menurutnya, saat ini pemerintah provinsi sedang berupaya memperbaiki jalan tersebut, dan dibeberapa titik jalan beraspal yang hancur ditimbun dengan tanah latrit dan kemudian akan dilakukan pengaspalan kembali. Namun karena truk bermuatan dibiarkan masuk, maka timbunan yang belum padat kembali menjadi bubur.

Warga lainnya, Arianto menyesalkan ketidakpedulian para sopir terhadap akses jalan itu, seharusnya demi kebaikan bersama untuk sementara waktu truk bermuatan barang-barang dan bahan bangunan tersebut mengalah dengan memilih jalur melalui Lamandau. “Mereka kalau jalan bagus hajar terus, tetapi kalau sudah rusak enak saja mereka mencari alternatif jalan lain, sementara kami warga setempat yang setiap hari melintas yang mendapat susahnya,” keluhnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.