Rupiah Tembus Rp 17.001 per Dolar AS, INDEF Ingatkan Dampaknya Bisa Picu Kenaikan Harga BBM dan Komoditas

mata uang rupiah dan dolar
Ilustrasi

Radarsampit.com – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada awal pekan ini. Mata uang Indonesia melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menembus level psikologis Rp 17.000 per dolar AS. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memberikan efek berantai terhadap berbagai sektor ekonomi nasional.

Pada perdagangan Senin (10/3), rupiah tercatat turun sekitar 76 poin atau setara 0,45 persen. Posisi rupiah berada di level Rp 17.001 per dolar AS. Pelemahan tersebut menjadi sorotan karena dapat memicu kenaikan harga sejumlah komoditas, termasuk bahan bakar minyak (BBM).

Bacaan Lainnya

Tidak hanya itu, tekanan juga terjadi di pasar saham. Hingga pukul 11.19 WIB menjelang penutupan sesi pertama perdagangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi cukup dalam. IHSG tercatat berada di level 7.334 setelah turun 3,31 persen atau setara 250,9 poin.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti, menilai pelemahan rupiah tidak bisa dilepaskan dari kondisi global yang sedang memanas. Konflik geopolitik yang meningkat antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat turut memberikan tekanan terhadap stabilitas ekonomi dunia.

Menurut Esther, eskalasi konflik tersebut berdampak pada sektor logistik dan transportasi internasional. Banyak jalur pelayaran yang harus diubah demi keamanan, meskipun rutenya menjadi lebih panjang dan memerlukan biaya lebih besar.

“Logistik dan transportasi harus mencari jalur yang lebih aman meski jaraknya lebih jauh. Akibatnya biaya pengiriman meningkat,” ujar Esther saat dihubungi, Senin (10/3).

Ia menjelaskan, situasi keamanan yang tidak menentu juga mempengaruhi pengiriman minyak dan komoditas lain. Kapal pengangkut yang beroperasi menjadi lebih terbatas karena faktor keamanan.

Kondisi tersebut pada akhirnya membuat biaya distribusi meningkat. Jika biaya logistik naik, maka harga komoditas di pasar juga berpotensi ikut terkerek.

Selain komoditas, sektor energi juga bisa terkena dampak. Esther menyebutkan bahwa kenaikan harga minyak dunia dapat mempengaruhi anggaran subsidi BBM yang tercantum dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Jika harga minyak dunia melonjak, maka pemerintah berpotensi melakukan penyesuaian terhadap asumsi harga minyak dalam APBN. Hal ini tentu berdampak pada besaran subsidi energi yang harus disiapkan.

Tak hanya itu, sektor transportasi udara juga berisiko terdampak. Menurut Esther, rute penerbangan internasional yang harus memutar karena faktor keamanan bisa memicu kenaikan biaya operasional maskapai.

“Potensi kenaikan harga tiket penerbangan juga bisa terjadi karena jalur penerbangan harus memutar demi keamanan,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi dampak pelemahan rupiah, Esther menyarankan pemerintah memperkuat pemasukan devisa dalam bentuk dolar AS. Salah satu caranya dengan meningkatkan sektor pariwisata agar lebih banyak wisatawan asing datang ke Indonesia.

Selain itu, diversifikasi mata uang dalam transaksi internasional juga bisa menjadi alternatif. Transaksi perdagangan dengan negara tertentu, misalnya Tiongkok, dapat menggunakan mata uang yuan agar tidak selalu bergantung pada dolar AS.

Ia juga menekankan pentingnya strategi lindung nilai atau hedging dalam kontrak ekspor impor. Dengan cara ini, pelaku usaha dapat meminimalkan risiko fluktuasi nilai tukar.

Langkah-langkah tersebut dinilai penting agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin membebani perekonomian nasional.

 

 

Pos terkait