Tugboat Tenggelam di Pegatan, Kapten 61 Tahun Ini Bertahan Hidup Enam Jam di Laut Gelap

kapten tugboat
SELAMAT: Ode Zulfikar, Kapten Kapal yang selamat dari insiden tenggelam, berfoto bersama nelayan yang menolongnya di perairan Pegatan, Selasa (7/10).

SAMPIT, radarsampit.com – Insiden tenggelamnya Kapal Tugboat Dantine 138 di perairan muara Pegatan meninggalkan kisah perjuangan hidup yang tak terlupakan bagi Ode Zulfikar.

Kapten kapal berusia 61 tahun itu menjadi satu-satunya yang selamat dari maut setelah terombang-ambing di laut selama enam jam.

Bacaan Lainnya

Cuaca buruk, hujan deras, dan gelombang tinggi yang terjadi Selasa (7/10) dini hari, membuat Ode sudah berfirasat buruk.

Berangkat dari Sampit pukul 16.00 WIB, Senin (6/10), bersama tiga anak buah kapal (ABK), ia ragu melanjutkan perjalanan menuju Kapuas.

Ode yang menakhodai kapal memutuskan mengubah haluan ke Pegatan. Selain faktor cuaca, ia mengaku ingin menunggu kejelasan izin berlayar.

”Kapal yang saya bawa memang tidak bawa muatan. Niatnya ke Kapuas mau assist tug membantu manuver kapal tongkang. Karena menghadapi cuaca buruk, saya tidak mau lanjut dan belok haluan ke Pegatan. Saya juga ragu karena surat izin kapal tidak ada. Maka dari itu saya ke Pegatan untuk mencari kejelasan izin,” ujar Ode saat diwawancarai Radar Sampit, Sabtu (11/10).

Namun, di tengah perjalanan menuju Pegatan, musibah datang tanpa diduga. Kapal Tugboat Dantine 138 mengalami kebocoran. Ode tidak mengetahui sumber kebocoran, tetapi kamar mesin sudah terendam air. Dalam hitungan menit, kapal karam sekitar pukul 02.00 WIB dini hari, Selasa (7/10).

Ode bersama Pujiono (Kepala Kamar Mesin), Cahyo (Juru Mudi), dan Agus (Pengawal) berusaha menyelamatkan diri dengan life jacket dan lifecraft.

”Kejadian kapal karam begitu cepat. Kami buka liferaft, lima tas kami taruh di situ. Agus dan Pujiono menopang di liferaft, saya dan Cahyo di jeriken,” kenang Ode.

Namun nasib berkata lain. Cahyo hanyut terbawa ombak dan terpisah. Ode sempat berusaha menolongnya, tapi tak mampu menahan arus kuat.

”Saya ingin menggapai kayu yang disodorkan Cahyo, tapi bagaimana saya mau bantu sementara saya sendiri berenang tanpa bantuan apa-apa. Akhirnya kami terpisah,” ujarnya.

Ode kemudian berusaha kembali mencari Agus dan Pujiono, namun sia-sia.

”Sudah lebih 100 meter saya kembali ke arah mereka, tapi tidak menemukan keduanya. Niat hati ingin membantu Cahyo, malah saya terpisah sama mereka bertiga,” ucapnya.

Pos terkait